Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Uang BI, Suhaedi, mengungkapkan sebelum dilakukan pemusnahan, BI melakukan penelitian keaslian atas uang rupiah di laboratorium Bank Indonesia Counterfeit Analysis Center (BI-CAC).
"Dilakukan pemusnahan uang palsu 189.477 lembar yang ditemukan di Bank Indonesia dari setoran bank. Kemudian setelah kita lakukan verifikasi dan analisis di laboratorium kami dan kita yakini itu palsu kemudian kita serahkan ke Bareskrim Polri," ujar Suhaedi, dalam Konferensi Pers Pemusnahan uang Rupiah di Gedung C BI, Jakarta Pusat, Rabu (26/7/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari temuan 189.477 lembar rupiah palsu, Suhaedi merinci, pecahan menyerupai Rp 100.000 sebanyak 90.180 lembar, menyerupai pecahan Rp 50.000 sebanyak 82.8222. Sedangkan pecahan menyerupai Rp 20.000 10.919 lembar, menyerupai Rp 10.000 sebanyak 3.590 lembar, menyerupai Rp 5.000 sebanyak 1.961 lembar, menyerupai Rp 2.000 5 lembar, dengan total 189.477 lembar.
"Semakin menunjukan hasil yang baik dari waktu ke waktu. Temuan uang palsu yang ditemukan ke detoran bank maupun kasus-kasus penyelildikan Mabes Polri jumlahnya terus menurun," ujar Suhaedi.
Berdasarkan catatan BI, temuan uang palsu pada tahun 2017 sebanyak 63.499 lembar atau dengan rasio 4 lembar dalam setiap 1 juta lembar rupiah. Angka tersebut lebih rendah dari kasus tahun 2016 dan 2015.
Pada 2016, temuan uang palsu dengan rasio 13 lembar dalam setiap 1 juta lembar rupiah, dan di 2015 ada 21 lembar pada setiap 1 juta lembar rupiah. Sedangkan di 2017 mencapai 4 lembar dalam 1 juta lembar pecahan rupiah.
Suhaedi menambahkan, lolosnya rupiah palsu dari alat pendeteksi bank disebabkan banyaknya volume transaksi, sehingga kedapatan ada beberapa pecahan rupiah palsu lolos ke bank. Namun, pihaknya menegaskan bahwa kasus uang palsu setoran perbankan mengalami penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Bank punya mekanisme dan alat-alat mencegah uang palsu masuk, di teller dan mesin ATM sudah dilengkapi alat untuk mendeteksi. Namun, dengan volume ditangani perbankan masih ada yang lolos," tutur Suhaedi. (wdl/wdl)











































