General Manager Divisi Bisnis Kartu BNI Corina Leyla Karnalies mengatakan, produk teranyar tersebut sedikit berbeda dengan UnikQu yang berbasis debit. Untuk mobile push payment yang baru itu tersambung langsung dengan kartu kredit.
"Konsepnya aplikasi, tapi ini tapi ini tersambung dengan kartu kredit. Jadi kalau e-money lainnya kan harus ribet top up, ini tidak langsung masuk ke kartu kredit," terangnya di sela-sela acara HUT BNI ke-71 di Gedung BNI, Jakarta, Minggu (30/7/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto: Danang Sugianto |
Corina mengatakan, produk mobile push payment berbasis kartu kredit belum pernah ada sebelumnya. Meskipun saat ini BNI baru mengajukan izin ke Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
"Ini yang pertama, kami yakin kuartal-III tahun ini bisa diluncurkan," imbuhnya.
Foto: Danang Sugianto |
BNI pada acara HUT hari ini mendorong karyawannya untuk menjajal produk terbaru tersebut. Sebab produk itu belum mendapatkan persetujuan dari BI dan OJK.
"Sekarang kita baru penetrasi sekalian uji coba. Jadi yang sudah ada kartu kredit karyawan BNI saja. Karena belum launching belum ada nama resminya juga, baru pilot project," tambahnya.
Produk ini diyakini akan diminati para nasabah BNI. Sebab selain tidak ribet pakai uang tunai, produk ini juga mempermudah nasabah karena tidak perlu top up.
Foto: Danang Sugianto |
Sementara dari sisi BNI juga akan menghemat perusahaan karena tidak perlu mengeluarkan biaya untuk menyebar mesin EDC. Untuk satu mesin EDC biasanya BNI harus mengeluarkan investasi sekitar Rp 3-4 juta.
Produk ini nantinya akan menggandeng merchant-merchant kecil di luar mal, seperti toko kelontong dan SPBU yang membutuhkan transaksi yang cepat. (mkj/mkj)












































Foto: Danang Sugianto
Foto: Danang Sugianto
Foto: Danang Sugianto