Follow detikFinance
Minggu 30 Jul 2017, 16:13 WIB

Ekonomi RI Tampak Lesu, Bagaimana dengan Perbankan?

Danang Sugianto - detikFinance
Ekonomi RI Tampak Lesu, Bagaimana dengan Perbankan? Foto: Ari Saputra
Jakarta - Perbankan belum begitu merasakan lesunya perekonomian di Indonesia. Meskipun beberapa data dari sektor ritel hingga properti menunjukkan pelemahan yang cukup signifikan.

Demikianlah diungkapkan Direktur Bisnis Konsumer PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Anggoro Eko Cahyo di sela-sela perhelatan HUT BNI ke 71 di Gedung BNI, Jakarta, Minggu (30/7/2017). Menurut Angoro kredit konsumer masih tumbuh bagus hingga semester I-2017.

"Kredit konsumer tumbuh 14%, itu bervariasi, tapi secara total 14%. Tahun lalu kredit konsumer tumbuh sekitar 10%," ujarnya.

Seperti diketahui, menurunnya aktivitas ekonomi di sejumlah pusat perbelanjaan menimbulkan tanda tanya, benarkah ekonomi Indonesia pulih? Contoh seperti di Glodok, WTC Mangga Dua dan Roxy Square Ternyata banyak toko-toko yang tutup. Itu artinya aktivitas ekonomi di pusat perbelanjaan itu sudah menurun.

Belum lagi penjualan di sektor properti yang masih melambat. Menurut Rumah.com Property Index mencatat (RPI) volume suplai properti mengalami penurunan signifikan di kuartal II-2017, yakni sebesar 9,6%.

Sementara Lembaga konsultan properti asal Australia, Savills dalam risetnya menunjukkan tingkat kekosongan (vacancy) pasar perkantoran di area CBD, Jakarta mencapai 18,4% atau naik 2,7% dibanding semester sebelumnya.

Permintaan yang tak tumbuh lebih tinggi dibandingkan suplai. Total pasokan pada semester I-201 mencapai 270 ribu m2, sementara penyerapan ruang kantor tidak sampai 63 ribu m2 atau hanya sekitar 1/3.

Savills juga menunjukkan data tentang mal yang makin sepi. Tingkat kekosongan area tenant di mal di Jakarta bergerak naik ke angka 10,8% pada semester I-2017 dari sebelumnya 10,3% di semester II-2016.


Memang, diakui Anggoro kredit konsumer di sektor properti terasa menurun. Hal itu seiring dengan pengakuan penurunan penjualan oleh para pengembang mitra BNI.

"Pengembang juga sudah bilang penjualan saat ini belum terlalu maksimal penjualannya. Tapi konsumsi yang kecil cukup tinggi, traveling bagus, makanya kita kemarin kerjasama dengan Garuda program Ayo Liburan," imbuhnya.

Sementara untuk penurunan konsumsi masyarakat, Anggoro mengaku BNI masih memperoleh pendapatan dari kredit konsumer yang bersifat harian.

"Kalau itu kelihatan di transaksi kartu debit. Tapi transaksi debit di Juni kemarin kami lihat masih meningkat. Tapi musti kita lihat dulu setelah Lebaran seperti apa. Karena memang Lebaran lebih tinggi. Kita lihat di kuartal III ini seperti apa. Kuartal I masih oke, artinya bisnis konsumer yang non properti," tambahnya.


Sementara untuk fokus BNI di kredit konsumer masih lebih besar di sisi pinjaman karyawan atau payroll loan. Menurutnya payroll loan cukup aman bagi perbankan di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu. Sebab karena tabungan debitur ada di bank tersebut, sehingga kualitas kredit bisa terjaga.

"Payroll loan enggak hanya karyawan BNI, ada BUMN lain, kementerian dan swasta yang payrollnya di kita juga banyak. Kenapa, karena penghasilannya juga jelas masuk ke kita. Jadi secara ekspansi lebih fokus, secara kualitas juga baik, karena payment ya ada di kita juga," tukasnya.

(mkj/mkj)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed