Meski Inflasi Melambat, BI Tetap Terapkan Tight Bias
Selasa, 10 Mei 2005 18:13 WIB
Jakarta - Bank Indonesia akan tetap melanjutkan kebijakan moneter yang cenderung ketat (tight bias) untuk mengendalikan tingkat inflasi dalam jangka menengah meski saat ini tekanan inflasi melambat."Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang diselenggarakan hari ini memutuskan bahwa dalam upaya menjaga stabilitas makroekonomi yang ada khususnya untuk mengendalikan tingkat inflasi dalam jangka menengah, Bank Indonesia akan tetap melanjutkan kebijakan moneter yang cenderung ketat (tight bias)," demikian disampaikan oleh Direktur Direktorat Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat Bank Indonesia (BI) Halim Alamsyah, Selasa (10/5/2005).Menurut Halim Alamsyah, kebijakan tersebut ditempuh dengan langkah penyerapan kelebihan likuiditas perbankan secara optimal dengan kemungkinan kenaikan suku bunga secara bertahap.Selain itu, Bank Indonesia juga akan melanjutkan dan memperkuat langkah-langkah stabilisasi nilai tukar melalui pengendalian sisi permintaan dan sisi penawaran sebagaimana yang sebelumnya telah diimplementasikan melalui kebijakan sterilisasi, pengelolaan permintaan valas BUMN, dan penyesuaian ketentuan PDN (Posisi Devisa Netto).Keputusan tersebut ditetapkan setelah mempertimbangkan asesmen atas kondisi makroekonomi dan inflasi sampai dengan akhir bulan April 2005 yang disimpulkan bahwa kestabilan makroekonomi tetap terjaga meskipun tekanan terhadap nilai tukar dan inflasi cenderung meningkat. Secara umum, meskipun masih dilingkupi dengan kondisi eksternal yang kurang menguntungkan, kondisi perekonomian domestik sampai dengan akhir bulan April 2005 masih menunjukkan arah yang sejalan dengan prakiraan awal pertumbuhan ekonomi 5-6 persen (yoy) untuk triwulan II-2005. Perkiraan pertumbuhan tersebut juga telah diikuti dengan struktur pertumbuhan yang lebih berimbang, di mana peran investasi semakin meningkat tinggi. Inflasi mulai melambat meskipun masih pada laju yang relatif cukup tinggi. Sampai dengan bulan April 2005, IHK tercatat mencapai 8,12 persen (yoy). Tekanan inflasi terutama bersumber dari depresiasi nilai tukar rupiah dan ekspektasi inflasi yang masih tinggi. Sementara itu, secara makro tekanan inflasi dari sisi permintaan dirasakan belum terlalu kuat, meskipun pada beberapa sektor seperti otomotif, tingkat penggunaan kapasitas terlihat sudah cukup tinggi sehingga mendorong munculnya investasi baru. Melambatnya inflasi IHK bulan April terutama didorong oleh melambatnya inflasi bahan makanan (volatile food) akibat panen raya serta meredanya dampak kenaikan harga BBM.
(san/)











































