Follow detikFinance
Jumat 04 Aug 2017, 18:05 WIB

Bisakah Suku Bunga Acuan Turun Lagi? Ini Jawaban Gubernur BI

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Bisakah Suku Bunga Acuan Turun Lagi? Ini Jawaban Gubernur BI Foto: Ari Saputra
Jakarta - Ekonomi Indonesia memang masih dalam tahap pemulihan. Akan tetapi, sejumlah indikator perekonomian Indonesia menunjukkan kondisi yang terus membaik, baik dari sisi pertumbuhan ekonomi, inflasi maupun nilai tukar rupiah.

Dengan kondisi itu, bisakah suku bunga acuan diturunkan?

"Kita melihat bahwa jika hal ini terus menunjukan kondisi yang baik dan diikuti dengan data tergantung informasi yang diperoleh tidak tertutup kemungkinan untuk melakukan easing," kata Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo, di Gedung BI, Jumat (4/8/2017).

Suku bunga acuan BI 7 Days Reverse Repo Rate ditahan pada level 4,75% sejak Oktober 2016. Alasannya yang dikemukakan adalah ketidakpastian dari sisi global, khususnya Amerika Serikat (AS) yang mempercepat kenaikan suku bunga acuan sejak terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS.

Penurunan suku bunga diperlukan untuk mendorong ekonomi dari sisi moneter. Asumsinya ketika suku bunga acuan diturunkan, maka suku bunga deposito maupun kredit juga bisa lebih rendah dari sekarang. Sehingga masyarakat, khususnya kalangan dunia usaha bisa melakukan kegiatan ekonomi lebih tinggi.

"Kalau situasi terus menunjukkan kondisi terjaga tidak tertutup kemungkinan BI akan easing untuk bisa respons dan membantu ekonnomi kita supaya pertumbuhan ekonomi terjaga, investasi terjaga. Namun ini semua tergantung data saat RDG (Rapat Dewan Gubernur)," terang Agus.


Penyaluran Kredit Lesu

Terkait dengan rendahnya penyaluran kredit perbankan, Agus mengakui banyak perusahaan melakukan konsolidasi sejak awal tahun akibat beberapa faktor. Dari sisi global, memang ada kenaikan harga komoditas dari akhir 2016, namun di sisi lain adanya ketidakpastian dalam hal geopolitik di beberapa kawasan.

"Korporasi di Indonesia banyak yang sedang lakukan konsolidasi. Menunjukkan penurunan karena mereka efisiensi," ujarnya.

Dalam catatan BI, penyaluran kredit perbankan nasional per Juni 2017 tercatat 7,6% angka ini melambat dibandingkan periode Mei 2017 yakni 8,6%. Agus menuturkan kehati-hatian perbankan sebagai bagian dari upaya menjaga Non Performing Loan (NPL) atau rasio kredit bermasalah.

"Jadi mereka cukup hati-hati. Kalau membaik kita lihat potensi ekonomi Indonesia semester II akan membaik," tegas Agus. (mkj/dnl)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed