Hedging adalah salah satu instrumen untuk melindungi nilai tukar rupiah terhadap valuta asing dari risiko fluktuasi atau berubah-ubah. Hedging bisa juga disebut sebagai asuransi valuta asing bagi perusahaan yang memiliki kebutuhan valas untuk pembayaran utang ke luar negeri.
Kepala Divisi Treasury PLN, Iskandar mengatakan PLN melakukan hedging di masing-masing bank US$ 10 juta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Iskandar mengatakan, hedging kali ini menggunakan instrumen call spread option yakni produk hedging yang lebih murah dibandingkan forward.
"Call spread lebih murah preminya dari forward, kalau forward sekitar 4,5% per annum. Call spread di bawah itu," ujarnya.
Dia menjelaskan, saat ini kebutuhan valas PLN setahun mencapai US$ 7,5 miliar. Dana ini adalah kebutuhan untuk investasi, operasional dan pembayaran utang.
"Kebutuhannya berimbang. Untuk energi primer seperti IPP kita juga harus pakai dolar bayarnya. Tapi poinnya kebutuhan kami setahun harus dimitigasi risikonya karena nilai tukar yang sangat fluktuatif," jelas dia.
Dia mengatakan dengan hedging maka bisa terselamatkan dari selisih kurs jika sedang melemah. "Kalau fluktuasi lagi gede ya kita aman. Jadi seperti mitigasi risiko dan kita mendapatkan kepastian," jelas dia.
Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan sebenarnya sudah ada produk forward dan swap dalam instrumen hedging ini. Namun produk call spread adalah produk yang lebih efisien dan lebih murah.
"Jadi perusahaan bayar premi untuk jangka waktu tertentu untuk call spread. Kalau forward dan swap itu 5% maka call spread bisa separuhnya," ujarnya.
(mkj/mkj)











































