"Selama tiga bulan saya dibawain kopi dari Wamena ini. Enak, rasanya dan sekarang saya bisa langsung menikmatinya di tempat pembuatannya di kampung Jagara," ujar Rini saat berada di Honai milik Maximus Lannya, Selasa (22/8/2017).
Rini Nikmati Kopi Wamena di Rumah Honai Foto: Wilpret Siagian |
Menurut Rini, kunjungannya di Wamena ada dua hal pokok yakni melihat revitalisasi harga semen yang sudah ditetapkan sebesar Rp 360 ribu per sak di Wamena dan Rp 500 ribu per sak di Puncak Jaya. Kedua, melihat industri kopi yang ada di Wamena ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di sini masih banyak lahan tidur, berhektar-hektar tapi kami tidak bisa gunakan karena tidak ada alat kami untuk membuka lahan. Kami di sini hanya paka sekop (ganti cangkul)," kata Maximus.
Rini Nikmati Kopi Wamena di Rumah Honai Foto: Wilpret Siagian |
Selain itu, Maximus juga meminta agar dibantu dengan mesin gilingan kopi dan kendaraan angkutan (truk), karena petani di Wamena masih tradisional. "Kami masih kurang mesin penggiling bu, kami baru memiliki 2 mesin jadi petani kalau mau giling kulit merah masih antri," katanya.
Menanggapi hal itu Rini mengatakan akan memperhatikan apa yang sudah disampaikan. "Sampaikan saja apa yang masih kurang untuk membangun usaha ini," kata Rini.
"Tujuan kami datang ke sini adakah ini membangun usaha kreatif yang sudah bapak rintis. Nanti melalui BUMN yang ada disini akan kita sampaikan untuk bisa dibantu," ujarnya
Usai menikmati segelas kopi di Honai milik Maximus, Rini juga melakukan peninjauan ke pabrik kopi yang tidak jauh dari Honai tersebut. (mkj/mkj)












































Rini Nikmati Kopi Wamena di Rumah Honai Foto: Wilpret Siagian
Rini Nikmati Kopi Wamena di Rumah Honai Foto: Wilpret Siagian