Follow detikFinance
Senin 11 Sep 2017, 14:43 WIB

BI Proyeksi Dolar AS Capai Rp 13.420 Tahun Ini

Hendra Kusuma - detikFinance
BI Proyeksi Dolar AS Capai Rp 13.420 Tahun Ini Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Bank Indonesia (BI) mengasumsikan nilai tukar hingga akhir tahun ini secara rata-rata mencapai Rp 13.420 per US$, sedangkan untuk tahun depan diproyeksikan Rp 13.550 per US$.

Hal tersebut diungkapkan Deputi Gubernur Bank Indonesia, Mirza Adityaswara di ruang rapat Komisi XI DPR, sekaligus menjawab pertanyaan anggota Komisi XI terkait dengan asumsi dasar ekonomi.

Anggota Komisi XI dari Fraksi Partai Gerindra Kardaya Warnika meminta BI untuk lebih rinci dalam menentukan asumsi dasar ekonomi tanpa harus mencantumkan rentang (range).

"Tapi ini bukan target yak, kalau target itu inflasi, jadi 2017 Rp 13.420 dan 2018 Rp 13.550 per US$," kata Mirza.

Untuk inflasi, Mirza memproyeksikan hingga akhir 2018 sebesar 3,3% sedangkan untuk pertumbuhan ekonomi sebesar 5,26%.

"Ini proyeksi BI, untuk 2018 inflasi 3,3%, PDB 5,26%, kurs 13.550 per US$ bukan rata-rata tapi end of year 2018," jelas dia.

Mirza menyebutkan, asumsi dasar ekonomi versi BI memang selalu ditetapkan dengan rentang. Seperti nilai tukar untuk 2018 sebesar Rp 13.500-Rp 13.700 per US$.

Pergerakan dolar AS pagi ini juga melemah terhadap rupiah. Pagi ini, dolar AS bergerak di kisaran Rp 13.150 dengan posisi tertinggi di Rp 13.200 dan terendah di Rp 13.135. Pelemahan dolar, lanjut Mirza, juga dikarenakan pertumbuhan ekonomi AS yang tidak sesuai perkiraan. Begitu juga dengan tingkat inflasinya yang masih di bawah 2%.

"Nah, dua ini yang membuat mata uang US$ terhadap mata uang global melemah. Sehingga indeks US$ itu terus menurun, bahkan yield dari Surat Utang pemerintah AS untuk 10 tahun itu sekarang hanya sekitar 2,0%. Nah, ini kemudian membuat mata uang negara emerging market termasuk Indonesia kembali menarik. Sehingga capital inflow seperti yang disampaikan Pak ketua, masuk lagi ke Indonesia," jelasnya.

"Sebagai gambaran per hari ini SBN yield 10 tahun itu sudah di bawah 6,5% begitu, yang pada waktu itu pernah mencapai 7%, bahkan pernah capai 7% lebih," ungkap Mirza. (mkj/mkj)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed