Perubahan BEI Jadi Export Credit Agency Perlu 3 Tahun Lagi

Perubahan BEI Jadi Export Credit Agency Perlu 3 Tahun Lagi

- detikFinance
Sabtu, 21 Mei 2005 13:14 WIB
Denpasar - Perubahan status Bank Ekspor Indonesia (BEI) menjadi export credit agency (ECA) atau lembaga pembiayaan ekspor kemungkinan paling cepat bisa terealisir dalam 3 tahun ke depan. Demikian Dirut BEI Arifin Indra dalam focus discussion group yang berlangsung di Hard Rock Hotel, Bali, Sabtu (21/5/2005)."Saat ini RUU pembiayaan ekspor masuk dalam urutan 212 program legislasi nasional. Itu artinya kemungkinan tahun ini tidak akan dibahas, kemungkinan tahun depan. Jadi terealisir 3 tahun lagi," ujar Arifin.Ditambahkannya, BEI akan berusaha proaktif melobi beberapa departemen terkait, Setneg atau DPR sehingga proses pembahasannya tidak terlalu lama. BEI sudah menyiapkan draf yang saat ini masih ada di Setneg. Menurut Arifin, perubahan menjadi ECA sangat penting karena bisa mendukung peningkatan ekspor negara yang saat ini hanya sebesar US$ 5 miliar per bulan. "Yang paling penting adalah multiplier effectnya, karena dengan perubahan status ini, banyak kegiatan ekspor yang tidak dilayani perbankan bisa berkembang," papar Arifin.Nantinya ECA BEI ini akan mengikuti pola di negara Thailand, Cina atau Australia.Ketiga negara ini dinilai memiliki karakteristik yang sama dengan Indonesia sebagai negara agraris. Arifin juga mengusulkan agar pembiayaan ekspor ke negara-negara lain hendaknya nanti menggunakan ECA dari Indonesia seperti layaknya negara lain mengekspor ke Indonesia dengan menggunakan perusahaan pembiayaan sendiri. Sementara Ketua Komisi XI DPR RI Paskah Suzetta mengakui, pembahasan RUU ini bisa berlangsung lama. Apalagi saat ini pemerintah masih mempunyai beberapa prioritas pembahasan RUU seperti OJK (Otoritas Jasa Keuangan). Namun dia juga mendesak agar pemerintah bergerak cepat sehingga bisa dikerjakan seperti RUU Kepailitan dimana sebelumnya mengendap 2 tahun tapi bisa langsung dikerjakan. Kinerja BEIArifin juga menjelaskan, dari sisi total aset, BEI menargetkan peningkatan total aset hingga Rp 15 triliun dalam 5 tahun ke depan. Pada tahun 2004, total aset mencapai Rp 7,4 triliun, dan diharapkan pada akhir 2005 mencapai Rp 8 triliun. Sedangkan pembiayaan yang dilakukan pada tahun ini nilainya mencapai 90 persen dari Rp 8 triliun. Komposisi pembiayaan adalah 50 persen untuk refinancing dan 50 persen pembiayaan langsung. Diakui Arifin, pembiayaan refinancing pada tahun ini mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu yang bisa mencapai 60 persen. Ini terjadi karena BEI harus bersaing ketat dengan perbankan nasional yang bisa menyediakan dana murah yang dampaknya memberikan kredit yang lebih murah dibanding BEI. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads