Hal tersebut diungkapkannya pada saat pembahasan postur sementara RAPBN 2018 bersama Badan Anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Jakarta, Rabu (4/10/2017).
"Kemarin terjadi pelemahan Rp 13.542 itu karena negara di dunia mengalami mata uang melemah terhadap dolar, karena presiden AS secara lebih jauh menjelaskan mengenai reformasi pajak dan mendapat dukungan dari parlemen, dan ada ucapan pimpinan The Fed yang akan ada kenaikan FFR pada Desember (2017)," kata Agus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Langkah tersebut dianggap mampu mendorong ekonomi AS lebih cepat tumbuh ke depannya. Sehingg direspons oleh investor dengan mengalihkan dana ke AS. Sehingga dolar AS begitu perkasa terhadap banyak mata uang.
Meski rupiah melemah ke level Rp 13.542 per US$, Agus memastikan jika dilihat secara kumulatif (ytd), nilai tukar rupiah masih berada di rentang asumsi BI dan pemerintah.
Agus memastikan, pelemahan nilai tukar juga tidak terjadi hanya pada rupiah, melainkan juga mata uang utama negara-negara lain. "Kita juga memahami ada aspek perhatian karena memang kemarin ada pelemahan mata uang Eropa, karena dinamika di Spanyol," ungkap dia.
Baca juga: Harga Emas Terus Turun, Ini Penjelasannya |
Meski demikian, Agus berkeyakinan bahwa pelemahan Rupiah hanya bersifat sementara.
"Hal ini kami yakini masih bersifat sementara sedangkan Indonesia khususnya fundamental ekonomi kita terjaga mulai dari pertumbuhan ekonomi, inflasi sampai neraca pembayaran, dengan asumsi Rp 13.400 masih sejalan dengan range yang disampaikan," tukas dia. (mkj/mkj)











































