Agus memastikan, nilai tukar rupiah yang tembus di atas Rp 13.500 per US$ dikarenakan faktor eksternal, mulai dari wacana pemangkasan pajak yang akan dilakukan oleh rezim Donald Trump dan sinyal kenaikan Fed Fund Rate pada Desember 2017.
"Jadi yang bisa saya sampaikan ini adalah karena kondisi eksternal dan hanya bersifat sementara," kata Agus di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (4/10/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rupiah menjadi salah satu komponen dalam perekonomian nasional. Posisi nilai tukar yang lemah, menurut Agus tentunya tak sejalan dengan upaya mendorong ekonomi tumbuh lebih tinggi.
"Tentu ini adalah yang penting kita fokus pada upaya pemulihan ekonomi nasional. Untuk bisa menggunakan sementara dua ini perbaikan ekonomi nasional dan dengan kondisi seperti itu kita akan kembali ke situasi yang lebih baik. Tidak dalam kondisi yang lemah yang kami yakini sementara," ungkap dia.
Sementara itu, Agus juga memastikan volatilitas rupiah belakangan ini masih bisa diterima oleh Bank Indonesia. Sebab, beberapa asumsi ekonomi lainnya, seperti inflasi masih terkendali dengan baik. (mkj/mkj)











































