Anggaran Pertemuan IMF-WB di Bali Lebih Kecil dari Negara Lain

Anggaran Pertemuan IMF-WB di Bali Lebih Kecil dari Negara Lain

Hendra Kusuma - detikFinance
Rabu, 04 Okt 2017 18:19 WIB
Anggaran Pertemuan IMF-WB di Bali Lebih Kecil dari Negara Lain
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Tahun depan, Indonesia akan menjadi tuan rumah pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia (IMF-World Bank) di Bali. Anggaran yang disediakan pemerintah dan Bank Indonesia (BI) Rp 810 miliar.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengatakan anggaran tersebut lebih kecil, dibandingkan anggaran dari negara-negara yang pernah menjadi tuan rumah pada pertemuan serupa.

Dari total anggaran gelaran Rp 810 miliar, Kementerian Keuangan mengeluarkan Rp 672 miliar, dan BI Rp 137 miliar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Totalnya Rp 810 miliar, ini lebih kecil dibandingkan baru saja yang jadi host (tuan rumah) seperti Peru di Lima, bahkan 2012 di Tokyo dan negara lain," kata Sri Mulyani, di Ruang Rapat Komisi XI DPR, Jakarta, Rabu (4/10/2017).

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini menjelaskan, anggaran untuk pertemuan serupa di Singapura pada 2006 mencapai Rp 994,4 miliar. Lalu pada 2009 gelaran pertemuan tahunan itu dilakukan di Turki, yang menghabiskan dana sekitar Rp 1,25 triliun.

"Biaya yang dikeluarkan untuk membangun site meeting yang baru maka ada construction cost sebesar Rp 1,25 triliun. Kalau dibanding Indonesia, ini dua kali lipat," tambah dia.

Selanjutnya, pada 2015 pertemuan serupa yang diadakan di Tokyo menghabiskan dana sekitar Rp 1,1 triliun.

Sedangkan gelaran yang terakhir, yakni di Lima, Peru, menghabiskan dana kurang lebih Rp 2,29 triliun, yang dibutuhkan untuk beberapa pembangungan.

"Karena mereka khusus membangun convention center yang dipakai untuk pertemuan IMF-WB dan dipakai untuk aktivitas lain. Ini belum termasuk biaya lain dari host country-nya," jelas dia.

Dari total dana Rp 810 miliar, Sri Mulyani memastikan pemerintah akan mengalokasikan Rp 65,8 miliar untuk kebutuhan rapat.

"Ini semuanya vendor dalam negeri, yang dapat kerjaan perusahaan dalam negeri, dan berbagai macam barang yang dibeli bisa dipakai atau dihibahkan. Untuk kesekretariatan dan IT infrastructure ini masuk tiga besar, namun sama seperti host country reception dan IT infrastructure. Dan yang terakhir untuk komunikasi, branding, dan media," tukas dia. (wdl/wdl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads