Miranda: Asumsi Rp 8.900/US$ Sulit Tercapai
Kamis, 26 Mei 2005 16:28 WIB
Jakarta - Asumsi nilai tukar Rupiah yang dipatok dalam APBN-P 2005 sebesar Rp 8.900 per dolar AS akan sulit tercapai, meski sampai Mei ada kecenderungan penguatan nilai tukar Rupiah. BI menilai, asumsi nilai tukar Rupiah yang wajar adalah di kisaran Rp 9.000-9.300 per dolar. Demikian Deputi Gubernur Senior BI Miranda S Goeltom dalam rapat kerja dengan Panitia Anggaran DPR RI di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Kamis (26/5/2005).Berdasarkan catatan BI, rata-rata nilai tukar Rupiah sampai Mei mencapai Rp 9.300 per dolar AS. "Jadi akan sulit bila asumsi nilai tukar Rupiah pada kisaran Rp 8.900," tegas Miranda.Miranda mengakui, Rupiah memang cenderung menguat dalam sisa tahun berjalan, seiring masuknya aliran modal asing baik berupa modal langsung ataupun portfolio investasi terkait investasi. Namun menurut Miranda, permintaan valas untuk bahan baku akan mengalami peningkatan.Mengenai pertumbuhan ekonomi pada tahun 2005, BI optimistis bisa mencapai batas atas di kisaran 5-6 persen. Pertumbuhan ekonomi yang cukup baik, menurut Miranda, dipicu pertumbuhan investasi, sementara konsumsi masyarakat masih di level yang wajar. Pengaruh inflasi masih cukup besar, karena adanya efek putaran kedua yang menyebabkan kenaikan harga-harga angkutan atau transportasi dan tarif dasar listrik. BI memperkirakan tingkat inflasi mencapai 7-8 persen atau melebihi asumsi dalam APBN-P yakni 6 plus minus 1 persen. "Untuk itu BI tetap akan melakukan kebijakan tight bias. Namun akan dibatasi untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi," kata Miranda. Secara operasional, BI menjaga inflasi melalui penyerapan likuiditas dengan peningkatan suku bunga yang terukur. BI menganggap suku bunga SBI dalam APBN-P yang dipatok 8 persen cukup realistis.
(qom/)











































