Ambil Langkah Netral, BI Waspadai Aksi Bank Sentral AS

Ambil Langkah Netral, BI Waspadai Aksi Bank Sentral AS

Maikel Jefriando - detikFinance
Kamis, 19 Okt 2017 18:19 WIB
Ambil Langkah Netral, BI Waspadai Aksi Bank Sentral AS
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya, BI 7-day Reverse Repo Rate di posisi 4,25% pada hari ini. Pelonggaran moneter dirasa telah cukup untuk saat ini merujuk kepada kondisi ekonomi global dan domestik.

Dalam siaran pers yang dibacakan Asisten Gubernur Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo, Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dipimpin Agus Martowardojo menggarisbawahi kondisi ekonomi global.

"Bank Indonesia tetap mewaspadai sejumlah risiko, baik yang berasal dari global terkait rencana pengetatan kebijakan moneter dan reformasi fiskal di AS serta tekanan geopolitik di Eropa dan semenanjung Korea, maupun risiko dari domestik antara lain masih berlanjutnya konsolidasi sektor korporasi dan perbankan," ungkap Dody, di Gedung Bank Indonesia, Kamis (19/10/2017).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dijelaskan Dody, kebijakan untuk mempertahankan suku bunga acuannya sebagai langkah konsisten dengan upaya menjaga stabilitas makroekonomi dan stabilitas sistem keuangan.

"Serta mendorong laju pemulihan ekonomi dengan tetap mempertimbangkan dinamika perekonomian global maupun domestik," terangnya.

Tingkat suku bunga kebijakan saat ini, sambung Dody masih memadai untuk menjaga laju inflasi sesuai dengan sasaran dan defisit transaksi berjalan pada level yang sehat.

BI memproyeksikan inflasi tetap berada dalam target yang ditentukan di awal tahun, yaitu sebesar 4,0Âą1% tahun 2017 serta 3,5Âą1% tahun 2018 dan 2019.

Mencermati siaran pers Bank Indonesia, salah satu faktor yang membuat stance pelonggaran moneter terhenti adalah sejumlah risiko global. BI menilai risiko global perlu diwaspadai secara cermat, khususnya langkah dari Bank Sentral AS, The Fed.

"Antara lain kenaikan bunga acuan di AS atau (Fed Fund Rate/FFR) pada Desember 2017, dampak normalisasi neraca bank sentral AS yang mulai dilaksanakan pada akhir Oktober 2017, serta transisi kepemimpinan bank sentral AS. Selain itu, terdapat risiko geopolitik yang berasal dari Spanyol dan proses transisi kepemimpinan di beberapa negara Eropa. Di Asia, terdapat risiko geopolitik yang berasal dari semenanjung Korea," papar BI.

Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menilai tingkat suku bunga acuan yang ditahan sudah sesuai ekspektasi pasar. Kebijakan moneter BI, menurut Josua sejalan dengan target inflasi dan tetap mewaspadai kondisi global terutama normalisasi kebijakan The Fed.

"Stance kebijakan moneter BI yang netral dengan mempertahankan tingkat suku bunga acuannya sudah sesuai ekspektasi. Stance kebijakan moneter BI konsisten dengan target sasaran inflasi serta stabilisasi rupiah di tengah normalisasi kebijakan moneter the Fed akan dilakukan pada akhir tahun ini," terangnya.

Bahkan, sambung Josua, kondisi stance moneter yang netral akan membawa dampak terhadap nilai tukar rupiah. BI memiliki amunisi kuat untuk menjaga rupiah tetap stabil di tengah gejolak ekonomi global.

"Rasio cadangan devisa, cadangan devisa/impor, cadangan devisa/GDP dan cadangan devisa/utang jangka pendek menunjukkan bahwa pasar keuangan Indonesia memiliki buffer yang dapat menahan capital flight dari pasar keuangan Indonesia," terangnya.

Selain itu, Josua menambahkan BI juga sudah mengantisipasi second line of defense. "Dengan demikian, rupiah diperkirakan stabil dengan line of defense tersebut di tengah pengetatan kebijakan moneter bank sentral AS," tutup Josua.

Berikut posisi suku bunga acuan Bank Indonesia sejak Januari 2017 :
19 Oktober 2017 : 4.25 %
22 September 2017 : 4.25 %
22 Agustus 2017 : 4.50 %
20 Juli 2017 : 4.75 %
15 Juni 2017 : 4.75 %
18 Mei 2017 : 4.75 %
20 April 2017 : 4.75 %
16 Maret 2017 : 4.75 %
16 Februari 2017 : 4.75 %
19 Januari 2017 : 4.75 % (mkj/mkj)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads