Follow detikFinance
Jumat 20 Oct 2017, 08:05 WIB

Geliat Bisnis Ustaz Yusuf Mansur

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Geliat Bisnis Ustaz Yusuf Mansur Foto: Sylke Febrina Laucereno
Jakarta - Industri keuangan digital tanah air tengah menggeliat, ditandai dengan bermunculannya perusahaan yang menyediakan jada keuangan digital atau yang lebih dikenal dengan istilah fintech.

Salah satu yang ambil bagian dalam tren industri fintech ini adalah PayTren. Produk pembayaran digital yang dikembangkan Ustaz Yusuf Mansur. Dari catatannya, PayTren diklaim telah memiliki banyak pengguna dengan rata-rata frekuensi transaksi harian mencapai 700.000 transaksi meliputi pembayaran pulsa hingga token listrik.

[Gambas:Video 20detik]

Tak berhenti sampai di situ, PayTren milik Ustadz Yusuf Mansur ditargetkan bisa ikut program elektronifikasi pembayaran jalan tol. Yusuf Mansur menjelaskan jika selama ini pembayaran non tunai di jalan tol menggunakan kartu dia menargetkan bisa pakai handphone memanfaatkan aplikasi PayTren miliknya.

"Kalau e-money biasanya pakai kartu, kita pakai handphone saja. Saya tidak sabar mau layani pembayaran tol juga," kata Yusuf Mansur dalam konferensi pers di Dpedas Resto, Jakarta, Rabu (18/10/2017) malam.

Optimisme Yusuf mengembangkan bisnis PayTren tak surut meskipun tengah dirundung masalah. Saat ini Bank Indonesia (BI) menghentikan sementara layanan isi ulang PayTren karena dianggap tak memenuh sejumlah persyaratan di industri keuangan.

Menurut Yusuf, penghentian sementara ini bukan akhir dari bisnis PayTren, karena hanya fasilitas pengisian ulangnya saja yang dihentikan. Saldo pengguna masih tetap bisa digunakan.

"Kami comply (ikuti) dengan aturan BI, jadi tidak ada deposit baru. Sementara yang saldo yang masih ada bisa dipakai untuk transaksi," kata Yusuf Mansur.


Yusuf Mansur menyebutkan, PayTren tidak tinggal diam. Saat ini pihaknya tengah mengurus kelengkapan izin agar layanan PayTren bisa kembali normal dan dinikmati para penggunanya lagi. Langkah ini juga ditempuh sebagai pembuktian bahwa PayTren adalah layanan yang legal dan taat terhadap aturan.

"Biasanya kalau pengusaha nakal itu kan tidak berani ajukan izin. Saya mah berani, karena saya tidak mungkin macam-macam, karena ini amanah ya saya diajarkan untuk tidak menggunakan yang bukan hak saya," ujarnya.


Tak mau setengah-setengah di industri keuangan, Yusuf Mansur juga berencana meluncurkan produk investasi keuangan berbentuk reksa dana. Tujuannya, untuk memfasilitasi masyarakat di sektor keuangan.

Yusuf menjelaskan, reksa dana berbasis syariah akan berada di bawah naungan PayTren Aset Management. "Reksa dana-nya syariah, cita-citanya siapa tahu bisa jadi standby buyer-nya Muamalat," kata Yusuf.

Dia menjelaskan, pihaknya telah mengajukan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait produk investasi tersebut. Antara lain pasar uang syariah dan pasar saham syariah.

"Kami pilih reksa dana karena salah satu investasi yang paling mudah, konsepnya sama seperti tabungan bisa dicairkan sewaktu-waktu," imbuh dia.


Tak hanya bisnis berbasis fintech, Yusuf Mansur juga mengelola Koperasi Merah Putih. Koperasi ini dulunya bernama Koperasi berjamaah. Saat ini total anggotanya sudah mencapai 2.900 orang. Namun, ada sekitar 400 anggota yang sulit untuk diajak berkomunikasi.

Mengenai konsep bisnis koperasi ini, Yusuf Mansur berencana roadshow ke 8 kota di Indonesia guna membeberkan konsep bisnisnya kepada para investor yang sudah menempatkan dananya di Koperasi Merah Putih.

Roadshow ini juga dimaksudkan untuk memberikan klarifikasi atas banyaknya laporan penipuan yang ditujukan pada Yusuf Mansur lewat produk Koperasi Merah Putih Tersebut.

"Kita akan jelaskan di roadshow yang digelar di 8 kota, mulai 6-13 November. Kami datang satu tim penuh dari Koperasi Merah Putih," ujar Yusuf.

Dia menyebutkan juga siap mengembalikan dana investor jika mereka meminta pengembalian. "Kalau mau minta duitnya ya di sini, jangan di polisi," kata Yusuf Mansur.

(dna/ang)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed