Seiring bertambahnya jumlah temuan investasi ilegal, semakin berkurangnya praktik merugikan tersebut. Namun jumlah tersebut membuktikan masih ada masyarakat Indonesia yang mudah tertipu investasi bodong.
Menurut Ketua Satgas Waspada Investasi, Tongam L Tobing, ada 2 hal yang menyebabkan orang mudah tergiur dengan penawaran investasi bodong. Pertama, pengetahuan atau literasi terhadap dunia keuangan masih rendah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua, lanjut Tongam, lantaran memiliki sifat serakah atau ingin mencari jalan pintas untuk menambah kekayaan. Bagi korban jenis ini tidak tergantung terhadap literasi keuangannya.
Bahkan menurut catatannya, ada korban yang sudah memiliki pendidkan tinggi dan bekerja di instansi atau perusahaan ternama. Namun karena dijanjikan bunga yang tinggi, literasi keuangannya seakan luntur.
"Ada juga yang tingkat literasi keuangannya sangat tinggi, pendidikan bagus, bahkan sudah kerja di instansi pemerintah atau lembaga besar, tapi tetap saja ikut. Itu karena niatnya mau cepat kaya, serakah dia," imbuhnya.
Sayangnya tingkat literasi keuangan Indonesia memang terbilang masih cukup rendah. Menurut survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tingkat literasi keuangan Indonesia pada 2016 hanya sebesar 29,66%.
"Kami merespons ini melakukan edukasi dan preventif. Salah satunya mengumumkan entitas tersebut. Ini yang kami tanamkan kepada masyarakat. Sehingga keinginan masyarakat cepat kaya atau dapat uang instan bisa kami rem," tandasnya. (wdl/wdl)











































