Direktur BRI, Haru Kusmahargyo, menjelaskan peningkatan laba bersih ini ditopang dari pertumbuhan pendapatan bunga dan pertumbuhan kredit.
"Pertumbuhan kredit masih double digit, net interest income (NII) tumbuh 11%, kemudian fee based income tumbuh 12%, itu yang mendorong," kata Haru dalam paparan kinerja di Gedung BRI, Jakarta, Kamis, (26/10/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Khusus untuk penyaluran kredit ke sektor UMKM tumbuh 14,2% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Kredit UMKM ditopang kredit mikro Rp 229,3 triliun, kredit konsumer Rp 108,2 triliun, kredit ritel dan menengah Rp 176,4 triliun, dan kredit program sebesar Rp 12,6 triliun.
Rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) BRI tercatat 2,33% secara gross. BRI juga menungkatkan cadangan kerugian atau NPL coverage menjadi 198,2% dari sebelumnya 156,9% di akhir kuartal III-2016.
Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) kuartal III-2017 adalah Rp 770,6 triliun, atau tumbuh 10,9%. Dana murah masih mendominasi pendanaan BRI yakni sebesar 55,4% dari total DPK BRI.
"Perseroan menargetkan dana murah, hal ini dilakukan agar biaya dana bisa semakin rendah. Saat ini biaya dana BRI ini tercatat 3,47% atau turun dibandingkan dengan biaya pada periode tahun sebelumnya 3,89%," imbuh dia.
Pendapatan bunga bersih atau fee based income tercatat Rp 7,4 triliuh tumbuh 14,79% dibandingkan tahun lalu. (wdl/wdl)











































