Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 16 Nov 2017 13:47 WIB

Strategi Indonesia Eximbank Cari Pembiayaan Murah dari Luar Negeri

Muhammad Idris - detikFinance
Mitra Binaan Eximbank/Foto: Muhammad Idris/detikcom Mitra Binaan Eximbank/Foto: Muhammad Idris/detikcom
Jakarta - Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank sudah lama bergabung sebagai anggota Asian Exim Bank Forum (AEBF). Forum antar bank pembiayaan ekspor-impor (eximbank) di Asia ini mewadahi kerja sama antar bank exim dalam pertukaran informasi, pembiayaan perdagangan, dan investasi antar negara anggota AEBF.

Dibentuk sejak 1996, AEBF saat ini beranggotakan 11 eximbank, yaitu Indonesia Eximbank, The Export-Import Bank of China (China Eximbank), Export Finance & Insurance Corporation (EFIC), Export-Import Bank of India (India Eximbank), Japan Bank for International Cooperation (JBIC), The Export-Import Bank of Korea (KEXIM).

Kemudian Export-Import Bank of Malaysia Berhad (MEXIM), Philippine Export-Import Credit Agency (PhilEXIM), Export-Import of Bank of Thailand (EXIMThailand), Export Credit Bank of Turkey (Turk Eximbank), dan Vietnam Development Bank (VDB).

Dalam perjalanannya, forum ini telah menghasilkan beberapa kerja sama multilateral dan bilateral antara lain Reciprocal Risk Participation Agreement (RRPA) dan Training Committee dalam capacity building.

Pada tahun 2016, Indonesia Eximbank memperoleh kesempatan untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan AEBF Annual Meeting ke-22 di Bali. Di pertemuan itu, Indonesia Eximbank menggagas kerja sama antar anggota AEBF berbentuk fasilitas credit lines, yang kemudian dikukuhkan dalam bentuk penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) oleh seluruh anggota AEBF pada tanggal 9 November 2016.

Sebagaimana disepakati dalam Annual Meeting AEBF ke-22 di Bali, anggota forum membentuk gugus tugas yang diketuai oleh Indonesia Eximbank dan China Eximbank sebagai wakil, untuk penyusunan acuan naskah perjanjian fasilitas dalam kerangka kerjasama antar anggota AEBF.

Draf ini kemudian ditindaklanjuti di Annual Meeting AEBF ke-23 di Sydney saat EFIC menjadi tuan rumah, dengan dilaksanakan penandatanganan endorsement letter oleh seluruh pimpinan Eximbank anggota AEBF. Anggota forum menyepakati naskah perjanjian fasilitas yang diajukan gugus tugas yang ketuai Indonesia Eximbank. Hal ini membuat peluang kerja sama pembiayaan antar anggota semakin terbuka.

Dalam keterangan tertulis pada Kamis (16/11/2017), pada Annual Meeting ke-23 di Sydney, Indonesia Eximbank juga melakukan penandatanganan perjanjian kerja sama dengan EFIC untuk Fasilitas Cotton Financing pada 15 November 2017. Indonesia Eximbank diwakili oleh Direktur Eksekutif Indonesia Eximbank Sinthya Roesly, dan EFIC diwakili oleh Managing Director-nya, Swati Dave.

Kerja sama ini bertujuan untuk memfasilitasi eksportir Indonesia dalam pembelian bahan baku cotton dari Australia. Sehingga eksportir Indonesia dapat menikmati fasilitas pembiayaan untuk pembelian bahan baku cotton dengan tingkat suku bunga yang kompetitif.

Kemudian di kesempatan lain, Indonesia Eximbank juga melakukan penandatangan Framework Agreement dengan China Eximbank pada tanggal 14 November 2017 dalam penerbitan Panda Bond. Panda Bond merupakan obligasi mata uang Renminbi yang diterbitkan oleh entitas asing non-resident di China. Kerjasama ini dilakukan LPEI untuk diversifikasi pendanaan serta dengan tujuan menawarkan suku bunga yang kompetitif untuk jangka waktu yang panjang, dan menjadikannya sebagai salah satu alternatif pendanaan untuk memfasilitasi pembelian barang modal dari Cina.

Terakhir, yakni penandatanganan perjanjian antara Indonesia Eximbank dan Korea Eximbank untuk Interbank Credit Facility pada 15 November 2017. Penandatanganan dilakukan oleh Direktur Eksekutif LPEI Sinthya Roesly dan Korea Eximbank yang diwakili oleh Chairman Korea Eximbank, Eun Sung-soo.

Dalam perjanjian ini, Korea Eximbank memberikan fasilitas pembiayaan sebesar US$ 200juta untuk memfasilitasi transaksi pembelian barang modal atau bahan baku maupun jasa dari Korea, ataupun perusahaan Korea yang dibutuhkan oleh eksportir Indonesia dalam kegiatan produksi.

Sebagai informasi, LPEI sendiri adalah lembaga pembiayaan khusus yang didirikan berdasarkan UU Nomor 2 Tahun 2009 tentang Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia. Berdasarkan mandat itu, LPEI memiliki fungsi untuk mendukung kebijakan pemerintah dalam mendorong program ekspor nasional melalui kegiataan pembiayaan, penjaminan, asuransi, dan jasa konsultasi.

Agar dapat berperan dan berfungsi secara efektif, LPEI beroperasi secara independen, berdasarkan undang-undang tersendiri (lex specialist), dan memiliki sifat sovereign status. (idr/idr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com