Ini tercermin dari undisbursed loan atau kredit yang belum dicairkan tercatat masih Rp 1.400 triliun. Sementara itu, kredit perbankan per Oktober 2017 tercatat 8,18% lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Ekonom PT Bank Central Asia Tbk David Sumual menjelaskan masih banyaknya kredit 'nganggur' tersebut terjadi karena permintaan yang lemah dan upaya menahan penarikan kredit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menyebutkan undisbursed loan masih sekitar 30% dari total penyaluran kredit. Sebenarnya dari sisi plafon sudah diberikan tapi permintaan kreditnya masih lemah.
David menjelaskan di beberapa sektor mungkin membutuhkan modal kerja. Biasanya modal kerja ini akan meningkat pada akhir tahun. Lalu infrastruktur dan investasi yang biasanya dicairkan seiring dengan pencapaian proyeknya.
"Kredit itu bukan belum cair. Memang diberikan plafon, tapi itu kan sejalan dengan berlangsungnya proyek dan secara bertahap," imbuh dia.
David mengatakan beberapa waktu lalu kredit konsumsi terkait properti turut mendorong penyaluran kredit perbankan. Namun saat ini kredit properti juga tidak sekuat tahun sebelumnya.
Kemudian kredit pertambangan dan perkebunan juga harus memperhitungkan penarikan kreditnya.
"Mereka akan berhati-hati dan terukur mengambilnya. Kalau belum ada permintaan yang kuat pasti tidak berani, walaupun mereka sudah mendapatkan kredit dari bank," jelasnya.
Jika dilihat dari data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), peningkatan undirsbursed loan terjadi sejak Juni 2016 kemudian jumlah kredit 'nganggur' yang paling tinggi terjadi pada April 2017 yakni di atas Rp 1.400 triliun.
Kemudian menurun pada Mei, lalu memasuki Agustus undisbursed loan tercatat Rp 1.392 triliun dan pada September 2017 tercatat Rp 1.400 triliun. (dna/dna)











































