Ketua satgas waspada investasi, Tongam L Tobing menjelaskan penggunaan tokoh agama banyak dilakukan oleh perusahaan, hal ini untuk menarik minat masyarakat. "Biasanya menggunakan, pemuka agama. Masyarakat kan biasanya lebih percaya kalau ada mereka. Untuk menarik minat saja," kata Tongam dalam diskusi di Gedung OJK, Kamis (30/11/2017).
Dengan pembohongan yang menggunakan pemuka agama dan tokoh publik ini maka bisa menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap produk jasa keuangan. Hal ini dikhawatirkan bisa mengurangi stabilitas sistem keuangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini kan tidak logis, mana ada investasi kasih bunga sebesar itu, tapi sekarang masyarakatnya masih mudah tergiur bunga tinggi," ujar dia.
Ivestasi bodong ini juga membuat masyarakat malas untuk bekerja. Tongam mencontohkan ada investasi bodong di suatu daerah yang memberikan imbal hasil lebih dari 10%. Kemudian petani berbondong-bondong menjual tanahnya untuk bisa berinvestasi di tempat tersebut.
"Ini kan membuat masyarakat malas, ada petani yang rela menjual tanahnya untuk berinvestasi, lalu mereka mengajak petani lain untuk berinvestasi saja jangan bertani, ini kan bikin tidak bagus ya," ujarnya.
Tongam menjelaskan, dampak dari aktifitas investasi bodong ini adalah menimbulkan ketidakpercayaan kepada produk keuangan yang ada saat ini. Kemudian menimbulkan potensi instabilitas dan mengganggu proses pembangunan. Pasalnya, jika uang tersebut diinvestasikan di tempat yang benar bisa membantu proses pembangunan. (dna/dna)











































