Euro Kian Mendekati Ajal

Euro Kian Mendekati Ajal

- detikFinance
Senin, 06 Jun 2005 12:20 WIB
Jakarta - Euro terus melemah posisinya setelah Prancis dan Belanda menyatakan penolakannya terhadap Konstitusi Uni Eropa.Pada Senin ini, euro bahkan mencapai level terendahnya dalam sembilan bulan terakhir terhadap yen, dan merosot hingga 3 persen dalam sepekan terhadap dolar AS.Pekan lalu, hasil referendum di Belanda menunjukkan 60 persen penduduk Belanda menolak Konstitusi Uni Eropa. Hasil ini merupakan penolakan kedua setelah Prancis juga menyatakan penolakan yang sama. Penolakan dari dua negara utama Eropa ini membawa ketidakpastian mengenai nasib konstitusi dan arah Uni Eropa ke depan. Hal itu bisa menyeret pada perubahan kebijakan moneter, di mana Eropa saat ini menetapkan satu mata uang dan bank sentral. "Euro anjlok sangat besar, dan perlu waktu lama untuk memperbaiki kredibilitasnya," kata analis valas BNP Paribas dalam catatan risetnya kepada para kliennya seperti dikutip Reuters, Senin (6/6/2005).Sementara dolar AS tetap bertahap posisinya. Padahal data perekonomian AS menunjukkan melemahnya aktivitas manufaktur dalam dua tahun terakhir, dan kondisi lapangan pekerjaan yang menunjukkan angka terendah dalam 21 bulan terakhir. Analis valas dari Morgan Stanley di Tokyo, Taisuke Tanaka mengatakan, data perekonomian AS yang terus menunjukkan pelemahan dan posisi euro yang rentan, membawa keuntungan bagi Yen. "Risiko pelemahan euro dan anjloknya dolar menjadi momentum untuk mengangkat yen atas dua mata uang itu," kata Tanaka.Pada pukul 02.41 waktu setempat, euro berada di posisi 1,2245 per dolar AS, atau menguat tipis dibandingkan pada Jumat 3 Juni 2005 di posisi 1,2158 per dolar AS.Sementara terhadap yen, euro bertahan di level 131,8 per yen, atau sedikit di atas level Jumat akhir pekan lalu di 131,68 per yen, yang merupakan level terendah sejak Agustus tahun lalu. Euro pada Jumat lalu juga kembali merosot setelah Menteri Kesejahteraan Italia Roberto Marono mengatakan, Italia tengah mempertimbangkan kemungkinan kembali ke mata uangnya, Lira. Posisi euro sejak awal tahun ini terus merosot hingga 10 persen terhadap dolar AS dan 5 persen terhadap yen. Namun anggota Dewan Gubernur Bank Sentral Eropa, Christian Noyer membantah semua spekulasi itu. Menurut Noyer, euro tidak terancam oleh hasil referendum tersebut dan menyebut masalah tersebut sebagai "asumsi yang betul-betul menggelikan".Melemahnya euro ini akhirnya menjadi isu spekulasi baru bagi para pemain valas di London. Sementara bayangan para ekonom di Eropa tengah dikuasai oleh hasil dua referendum di Eropa itu, dan juga kemungkinan kolapsnya kesatuan moneter Eropa.Beberapa pialang di London berdebat tentang euro, apakah akan mendapat titik cerah atau kah semakin mendekati ajalnya. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads