Follow detikFinance
Senin 11 Dec 2017, 17:32 WIB

RI-Malaysia-Thailand Sepakat Tak Pakai Dolar AS, Ini Kata Bankir

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
RI-Malaysia-Thailand Sepakat Tak Pakai Dolar AS, Ini Kata Bankir Foto: Dikhy Sasra
Jakarta - Bank Indonesia (BI), Bank Negara Malaysia dan Bank of Thailand hari ini meluncurkan Local Currency Settlement Framework. Ini bertujuan untuk mengurangi penggunaan dolar AS dalam transaksi perdagangan bilateral antar negara.

Menanggapi hal tersebut Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja mengungkapkan hal ini akan membuat pengusaha bisa lebih efisien. "Jadi kita tidak perlu bolak-balik jual beli Dolar AS, bisa lebih efisien harusnya," kata Jahja dalam acara peluncuran Local Currency Settlement Framework, di Gedung BI, Jakarta, Senin (11/12/2017).

Dia menjelaskan, dengan LCS ini maka eksposur dolar AS bisa berkurang, sehingga bisa mendorong pendalaman pasar keuangan. Jahja menjelaskan, penawaran kerja sama ini diberikan oleh Bank Indonesia selaku bank sentral.

"BI menanyakan kepada bank lokal yang mau dan minat di program ini. Sama seperti bank Thailand dan Malaysia kita juga ada untuk kerja sama Local Currency Settlement ini," imbuh dia.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Suprajarto menjelaskan dengan LCS ini transaksi perdagangan bilateral bisa lebih cepat dan nyaman untuk pengusaha.

"Karena pakai mata uang sendiri dan langsung ke negara tujuan, maka bisa lebih efisien. Selama ini kan problemnya di kurs dolar AS yang turun naik, nanti bisa lebih efisien, cepat dan nyaman," ujarnya.

Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Achmad Baiquni menjelaskan tujuan LCS adalah untuk mendiversifikasi mata uang. Kemudian untuk menurunkan biaya transaksi.

"Yang pasti kita mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS, padahal potensi melakukan transaksi dengan local currency dua negara bisa dilakukan," ujarnya.

Dia menjelaskan, potensi penggunaan LCS ini sangat besar. Pasalnya transaksi pembayaran untuk perdagangan bilateral masih sangat besar menggunakan dolar AS. Dengan LCS diharapkan bisa diturunkan yakni menjadi 60% - 70%.

"Jika bisa diturunkan sekitar 60% hingga 70% tentu bagus sekali. Ini akan sangat bagus karena bisa mengurangi ketergantungan pada dolar AS," ujarnya. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed