Rencana Pemerintah Tambah Penerbitan SUN Dinilai Tak Tepat
Selasa, 07 Jun 2005 14:58 WIB
Jakarta - Rencana pemerintah untuk menambah jumlah surat utang negara (SUN) sebesar Rp 4,1 triliun menjadi Rp 47,1 triliun dinilai kurang tepat karena akan memancing meningkatnya inflasi, kenaikan suku bunga secara berlebihan dan depresiasi rupiah. "Mestinya, yang dilakukan untuk menambal defisit agar tetap 0,8 persen adalah melalui pemotongan anggaran terhadap departemen-departemen, bukan menambah SUN," kata anggota Komisi XI DPR RI Dradjad Wibowo kepada detikcom, Selasa (7/6/2005)Dradjad menegaskan, penambahan SUN tidak tepat karena akan menyebabkan pasar menjadi buyer market. Sedangkan saat ini rupiah cenderung melemah. "Efek crowding out dan psikologis akan mendorong kenaikan yield. Akibatnya, akan ada tambahan tekanan terhadap kenaikan SBI dan suku bunga kredit," ujar Dradjad. Dengan efek tersebut, lanjut Dradjad, dipastikan akan menambah inflasi, depresiasi rupiah dan kenaikan suku bunga secara berlebihan. Hal itu belum termasuk adanya efek terhadap kredit bagi dunia usaha.Seperti diketahui, Panja Pemerintah dan Panitia Kerja (Panja) A Panitia Anggaran sepakat menahan defisit anggaran pada APBN-Perubahan (APBN-P) 2005 sebesar 0,8 persen atau sekitar Rp 20,3 triliun.Defisit 0,8 persen itu akan dicapai melalui penambahan penerbitan SUN sebesar Rp 4,1 triliun menjadi Rp 47,1 triliun.
(qom/)











































