Follow detikFinance
Rabu, 13 Des 2017 18:00 WIB

Uang Virtual, Bagaimana Bitcoin Bisa Bernilai?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Tim Infografis, Mindra Purnomo Foto: Tim Infografis, Mindra Purnomo
Jakarta - Nilai satu keping uang digital atau bitcoin terus mengalami pergerakan dari tahun ke tahun. Ketika bitcoin diciptakan oleh Satoshi Nakamoto beberapa tahun lalu, nilai bitcoin tak kurang dari US$ 1 per kepingnya.

Jika dilihat per tahun, nilai sekeping Bitcoin pada 2013 hanya US$ 92, kemudian memasuki 2014 nilai crypto curency ini naik 819% menjadi US$ 846 per keping. Lalu pada 2015 mengalami penurunan 68,8% ke posisi US$ 265 per keping dan mulai merangkak naik kembali ke posisi US$ 437,9 per satu keping.

Namun tahun ini, nilai bitcoin melonjak tinggi dan terus mencetak rekor. Awal 2017 bitcoin tercatat hanya di kisaran US$ 977 per keping. Kemudian hari ini (13/12) mengutip bitcoin.com nilai satu keping tercatat US$ 16.747 per keping padahal, minggu lalu bitcoin sempat tembus US$ 18.000 per keping.

Lalu kenapa bitcoin bisa bernilai?

CEO Bitcoin Indonesia Oscar Darmawan menjelaskan meskipun berkonsep virtual atau digital nilai bitcoin bisa didapatkan dari banyaknya upaya yang dilakukan untuk menciptakan uang virtual ini. Kemudian, setiap sistem yang ada pada bitcoin tidak bisa disalin oleh siapapun.

"Jadi sistemnya memang tidak bisa dicopy atau disalin, dan diciptakan secara terbatas," kata Oscar dalam diskusi di Hotel Ibis, Jakarta, Rabu (13/12/2017).

Dia menjelaskan, booming kenaikan nilai bitcoin tak bisa disamakan dengan booming batu bacan. Ini karena kedua produk adalah jenis yang berbeda

"Memang berbeda secara nilai, tapi kalau secara spekulan bitcoin dengan batu bacan itu sama. Tapi untuk membuat batu bacan palsu lebih mudah, nah kalau membuat bitcoin palsu itu tidak mungkin. Selain aman dan kuat bitcoin juga disupply secara terbatas," ujar dia.

Oscar menjelaskan, di dunia ini ada sekitar 13.000 jenis cryptocurrency yang sejenis bitcoin. Namun bitcoin adalah uang virtual yang tertua di dunia namun memiliki inovasi yang kurang dibandingkan cryptocurrency lainnya.

Direktur Inovasi Keuangan Digital Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Fithri Hadi menjelaskan jika dilihat sejarahnya, bitcoin diciptakan untuk menghindari sistem yang mengekang mulai dari intervensi politik dan moneter.

"Jadi ini untuk menutupi kekurangan konsep nilai yang ada saat ini. Memang ini adalah terobosan namun harus diuji oleh waktu. Seperti nilainya yang saat ini naik turun, semuanya harus ada mitigasinya," imbuh dia.

Bitcoin bersifat world wide artinya bisa digunakan di seluruh dunia. Misalnya ada orang yang terbiasa melakukan perjalanan dan memiliki bitcoin, ini akan mempermudah pertukaran uang karena spreadnya akan lebih mudah. "Tapi dengan catatan, merchant yang ada di belahan dunia sana itu bisa menerima ini," ujarnya. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed