Perkuat Rupiah, BI Berharap RI Kembali Jadi Eksportir Minyak
Rabu, 08 Jun 2005 10:13 WIB
Jakarta - Bank Indonesia berharap Indonesia bisa kembali menjadi eksportir minyak, agar nilai tukar rupiah bisa bangkit dan tidak bergejolak. BI menyesalkan kondisi Indonesia yang justru menjadi importir minyak di tengah harga minyak yang tinggi. Demikian Gubernur BI Burhanuddin Abdullah di sela-sela Munas khusus Kadin di Hotel Borobudur, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (8/6/2005). "Dulu kita sempat menjadi negara eksportir minyak. Justru pada saat harga minyak naik, kita menjadi negara pengimpor minyak. Kalau bisa, Indonesia menjadi eksportir lagi, itu bagus sekali," kata Burhanuddin.Mengenai volatilitas rupiah yang cukup besar akhir-akhir ini, Burhanuddin mengatakan, hal itu disebabkan tidak seimbangnya permintaan dan penawaran valuta asing. Sementara dari sisi eksternal, volatilitas rupiah disebabkan karena adanya kenaikan harga minyak, kenaikan suku bunga Fed dan masalah-masalah Eropa. "Kami akan terus melakukan koordinasi dengan pemerintah. Tetapi intervensi ini hanya sementara. Momentum seperti ini ada perimbangannya," kata Burhanuddin yang optimis rupiah bisa menguat dalam 2 pekan mendatang.Burhanuddin juga menyampaikan, dalam rapat dewan gubernur (RDG) kemarin, disimpulkan permintaan valas melebihi suplai yang ada di pasar domestik. "Ini faktor yang ada. Pasar domestik begitu tipis sehingga begitu ada permintaan dolar 150 juta dalam satu hari, itu akan memberatkan rupiah," ungkapnya. Sementara berdasarkan hasil RDG seperti diumumkan dalam situs BI, rupiah mengalami apresiasi dengan volatilitas yang menurun dibandingkan bulan sebelumnya. Secara rata-rata rupiah mencapai Rp 9.480 per dolar AS, atau menguat 0,81 persen dari bulan sebelumnya. Penguatan rupiah itu merupakan imbas dari kebijakan stabilisasi rupiah BI khususnya melalui penyediaan valas dalam rangka sterilisasi dalam jumlah yang signifikan dan pengendalian permintaan valas BUMN. Dari sisi pasokan, aliran modal asing relatif terbatas ditengah berkurangnya penjualan valas oleh korporasi. Sementara permintaan domestik masih cukup besar baik dari korporasi maupun pemenuhan kebutuhan utang luar negeri perbankan yang terkait dengan exchange offer tahap II.
(qom/)











































