BI dan Negara-negara Tak Ingin Lagi Bergantung ke Dolar AS

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 28 Des 2017 17:38 WIB
Foto: Ari Saputra
Jakarta - Bank Indonesia (BI) beberapa waktu lalu menandatangani kesepakatan dengan Thailand dan Malaysia terkait local currency settlement (LCS). LCS bertujuan agar perdagangan bilateral ketiga negara bisa menggunakan mata uang lokal dan tidak ketergantungan pada dolar AS.

Deputi Gubernur BI, Perry Warjiyo menjelaskan, program ini untuk mendorong pendalaman pasar keuangan dan negara yang bekerja sama diharapkan bertransaksi menggunakan non dolar AS.

Perry menyebutkan saat ini, BI juga telah berkomunikasi dengan sejumlah negara yang tertarik dengan kerja sama ini.

"Kami mulai berkomunikasi dengan sejumlah negara tertarik untuk menggunakan LCS ini. Seperti Filipina, China, Jepang kami baru berkomunikasi ya," kata Perry dalam konferensi pers di Gedung BI, Jakarta, Kamis (28/12/2017).

Perry menjelaskan, tahun depan BI fokus untuk mendorong agar 17 bank yang bekerja sama bisa terus meningkatkan transaksi menggunakan LCS ini dengan melayani pembayaran dengan mata uang lokal kedua negara.

Dia menjelaskan LCS ini sudah disepakati oleh tiga negara yakni Indonesia, Thailand dan Malaysia. Nantinya perdagangan antar negara, misalnya Indonesia dengan Malaysia bisa langsung membayar menggunakan Ringgit, begitupun sebaliknya. Misalnya Indonesia dan Thailand bisa menggunakan Baht.

"Karena tidak perlu dolar lagi, transaksi perdagangan ini bisa lebih efisien," ujar dia.

Total perdagangan antar tiga negara ini selama 5 tahun terakhir tercatat US$ 1,2 triliun atau setara dengan Rp 1.620 triliun atau sekitar 50% dari total perdagangan ASEAN.

Dalam periode 2010-2016, volume transaksi perdagangan antara Indonesia dan Malaysia tercatat US$ 19,5 miliar atau setara dengan Rp 263 triliun (kurs Rp 13.500) Lalu untuk perdagangan antara Indonesia dan Thailand rata-rata US$ 15 miliar atau setara dengan Rp 202 triliun.

3 tahun terakhir perdagangan antara Indonesia dengan Thailand, disebutkan rata-rata impor Indonesia dari Thailand US$ 10 miliar atau dengan pangsa 5,7% dari keseluruhan impor dari mitra dagang. Sedangkan ekspor ke Thailand rata-rata US$ 5,9 miliar atau 3,4% dari total ekspor ke mitra dagangan Indonesia.

Sedangkan Indonesia dengan Malaysia rata-rata nilai impor dalam tiga tahun terakhir adalah US$ 11,5 miliar atau 6,6% dari keseluruhan impor. Sedangkan ekspor Indonesia dalam tiga tahun terakhir rata-rata US$ 9.6 miliar atau 5,5% dari total ekspor.

Untuk penggunaan mata uang dalam ekspor impor, penggunaan Baht dalam impor dari Thailand hanya US$ 0.28 miliar atau 0,2% dari keseluruhan pembayaran impor. Demikian pula penggunaan Malaysian Ringgit hanya US$ 0,44 miliar atau 0,3% keseluruhan pembayaran impor. (ang/ang)