Follow detikFinance
Sabtu, 30 Des 2017 08:50 WIB

Bolehkah Anak Menjadi Peserta Asuransi

Ila Abdulrahman – AAM & Partners - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Tidak ada satu peraturan ataupun undang-undang yang melarang untuk menjadikan anak sebagai peserta atau tertanggung dalam asuransi. Pertanyaan tepatnya adalah 'Tepatkah menjadikan anak sebagai peserta atau tertanggung dalam polis asuransi?'

Kembali lagi fungsi asuransi adalah menyiapkan penggantian kehilangan pendapatan akibat ketidakmampuan pencari nafkah utama menghasilkan pendapatan, biasanya diakibatkan oleh cacat tetap total ataupun terminal (meninggal).

Dari definisi ini dapat diketahui siapa yang butuh asuransi setidaknya adalah mereka yang: sudah dewasa, memiliki penghasilan, dan memiliki tanggungan. Rata-rata kategori ini adalah Kepala Keluarga.

Faktanya dan OJK menyatakan hanya 2.52% dari 257 juta penduduk Indonesia yang memiliki asuransi jiwa (OJK, Sept 2016) dari data IARFC Indonesia bahwa 9 dari 10 orang Indonesia salah beli Asuransi. Nah lhoo.

Dalam Asuransi ada 3 (tiga) istilah yang harus di fahami, yaitu:
1. tertanggung atau peserta
2. penanggung atau pemegang polis (yang membayar premi)
3. penerima benefit atau penerima manfaat atau ahli waris

Tertanggung bisa menjadi penanggung dan sebaliknya (orang yang sama), penanggung bisa menjadi ahli waris dan sebaliknya (orang yang sama), tetapi tertanggung tidak bisa menjadi ahli waris atau penerima benefit.

Asuransi Jiwa dibuat bertujuan untuk meng-cover penghasilan pemilik dana (gaji) alias si pembayar premi asuransi tersebut dalam hal ini harusnya orang tua (bisa bapak atau bisa ibumeskipun biasanya bapak).

Yang artinya, fungsi awal dari Asuransi Jiwa adalah bila orang tua (bapak) meninggal dunia, anak akan mendapatkan sejumlah dana untuk melanjutkan hidupnya seperti biaya sekolah dan kuliahnya.

Nah jika anak menjadi peserta asuransi, bukan bapak atau ibu yang di-cover tetapi yang dilindungi justru pendapatan si anak, padahal anak belum berpenghasilan.

Artinya, jika bapak atau ibu pemilik dana (yang membayar premi asuransi atau yang menjadi Penanggung atau pemegang polis) ini tutup usia, uang santunan tidak keluar.

Sebaliknya jika si anak tutup usia, uang pertanggungan mungkin akan keluar, sekali lagi mungkin akan keluar, faktanya bisa jadi tidak cair atau cair hanya sekian persen. Konsep ini banyak dijual dalam Asuransi Pendidikan.

Namun, ada asuransi pendidikan ini yang membayar kedua-duanya, yaitu baik si anak atau si orang tua tutup usia, uang pertanggungan (UP) keluar, dengan tambahan beasiswa setiap tahun, jika orang tua yang tercantum dalam polis tutup usia.

Namun kembali lagi, asuransi adalah proteksi bukan investasi, sehingga jika menjadikan produk tradisional maupun unit link sebagai investasi, ataupun proteksi, keduanya tidak akan optimal, baik di hasil investasi ataupun di proteksi.

Tidak optimal kan? Kalau anda berminat untuk mengoptimalkan asuransi anda, mengelola dana dan optimalkan investasi anda, bisa belajar lebih detail di workshop yang dilakukan baik oleh AAM & Associates http://ow.ly/pxId30gC3BB maupun IARFC Indonesia http://ow.ly/NbPy30gC3Dy.

Info workshop Kaya Raya Dengan Reksa Dana January 2018 buka di sini http://bit.ly/WRD0118. Untuk belajar mengelola gaji bulanan bisa ikut workshop CPMM, info di sini http://bit.ly/PMM0118.

Sementara untuk ilmu yang lengkap, anda bisa belajar tentang perencanaan keuangan komplit, bahkan bisa jadi konsultannya dengan ikutan workshop Basic Financial Planning info lihat di sini http://bit.ly/BFP0118 . Selain itu bisa juga bergabung di akun telegram group kami dengan nama Seputar Keuangan atau klik disini t.me/seputarkeuangan.

Nah, Mumpung akhir/awal tahun, momen ini tepat sekali untuk melakukan review terhadap keuangan dan rencana keuangan Anda, salah satunya dalam hal asuransi, baik benefit asuransi kesehatan, jumlah Uang Pertanggungan atau santunan tutup usia atau juga disebut manfaat Al khairat perlu ditambah atau tidak, siapa yang dilindungi penghasilannya apakah pencari nafkah atau malah penerima nafkah.

Beberapa hal tersebut perlu di-review secara rutin, agar produk keuangan yang dibeli dan dimiliki sesuai dengan yang dibutuhkan.

Semoga bermanfaat dan salam financial. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed