Follow detikFinance
Rabu, 03 Jan 2018 09:42 WIB

Banyak Kasus Investasi Bodong, Masyarakat Trauma Ikut Koperasi

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Hasan Al Habshy Foto: Hasan Al Habshy
Jakarta - Koperasi di Indonesia saat ini memiliki gambaran yang kurang baik di masyarakat. Hal ini karena, banyaknya kasus terkait investasi bodong yang melibatkan koperasi.

Sebut saja koperasi Langit Biru, koperasi Harus Sukses Bersama (penyertaan modal) dan Koperasi simpan pinjam Pandawa yang ditutup OJK akibat kasus investasi bodong.

Dari data satuan tugas waspada investasi, masih ada koperasi abal-abal yang menawarkan investasi bodong dan sudah dihentikan operasionalnya. Antara lain, Koperasi Bintang Abadi Sejahtera atau ILC, Koperasi Segitiga Bermuda/Profitwin77, Koperasi Serba Usaha Agro Cassava Nusantara di Cicurug Sukabumi/Agro Investy, Koperasi Budaya Karyawan Bank Bumi Daya Cabang Pekanbaru, Koperasi Karya Putra Alam Semesta.

Ketua DPP Ikatan Alumni Institut Koperasi Indonesia (IKA IKOPIN) Adri Istambul mengatakan koperasi di Indonesia saat ini banyak yang salah urus sehingga menyebabkan traumatik di masyarakat.

"Ada traumatik akibat salah urus. Ya yang uangnya dibawa kabur pengurus, dijadikan tempat untuk berinvestasi bodong sehingga kesannya koperasi menjadi abal-abal. Padahal tidak, itu hanya segelintir pihak yang memanfaatkan," ujar Adri saat dihubungi detikFinance, Selasa (3/1/2017).

Dia menjelaskan, untuk mengurangi atau mengawasi koperasi agar tetap berjalan sesuai jalur, Kementerian Koperasi dan UKM dinilai harus lebih kuat.

"Untuk mengurangi pandangan buruk masyarakat ini koperasi harus re-branding dan harus diberikan pemahaman yang baik kepada masyarakat," imbuh dia.

Sebenarnya ciri-ciri koperasi yang menawarkan investasi bodong mudah dikenali. Misalnya ia memberikan pinjaman di luar anggotanya. Padahal sudah tertulis jelas dalam PP Nomor 9 Tahun 1995 bahwa koperasi dilarang memberikan pinjaman selain anggotanya.

Bahwa koperasi simpan pinjam dilarang himpun dana di luar anggota. Ada siasati cara calon anggota dikasih kesempatan 3 bulan tapi itu tidak dipenuhi sehingga dia himpun terus dana. Biasanya pengurusnya lakukan itu, bahkan tidak sampai terlaporkan dalam laporan tahunannya.

Selain itu, koperasi bodong juga mengajak korbannya untuk menyimpan dananya dengan iming-iming keuntungan yang tinggi setiap bulannya. Hal ini yang membuat korban investasi bodong tak kunjung berhenti. (eds/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed