Follow detikFinance
Kamis 18 Jan 2018, 19:56 WIB

Di Depan Jokowi, Wimboh Beberkan Kondisi Industri Keuangan RI

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Di Depan Jokowi, Wimboh Beberkan Kondisi Industri Keuangan RI Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menggelar pertemuan tahunan industri jasa keuangan (PTIJK). Pertemuan ini juga dihadiri oleh Presiden Joko Widodo. Dari pantauan detikFinance, acara ini dihadiri oleh pelaku industri jasa keuangan mulai dari perbankan, asuransi, pasar modal hingga lembaga keuangan non bank.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso mengungkapkan acara ini diharapkan bisa mempererat sektor jasa keuangan. Sehingga bisa memacu pertumbuhan dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan.

"Kami akan mengambil langkah yang diperlukan agar OJK dapat lebih efektif dalam menjawab dinamika dan tantangan pembangunan ekonomi nasional, sekaligus dapat memenuhi ekspektasi masyarakat atas keberadaan OJK," kata Wimboh dalam acara pertemuan tahunan industri jasa keuangan di Ballroom Hotel Ritz Carlton, Pacific Place, Jakarta, Kamis (18/1/2018).

Wimboh menyampaikan saat ini adalah momentum yang tepat untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi dan sektor jasa keuangan yang kondusif.

Dia menjelaskan, hal ini ditandai dengan pertumbuhan ekonomi pada 2017 yang berada di kisaran 5% - 5,1%, nilai tukar Rupiah yang stabil, inflasi yang rendah di kisaran 3,61%, keseimbangan eksternal yang membaik terlihat dari surplus neraca perdagangan US$ 11,8 miliar, defisit APBN terkendali 2,42% dan kecenderungan suku bunga yang terus menurun.

Sepanjang 2017, suku bunga deposito telah turun 65 basis poin (bps) dan bunga kredit turun 77 bps. "Reformasi struktural yang dilakukan pemerintah, telah berhasil meningkatkan kepercayaan investor. Ini menyebabkan arus dana masuk ke pasar modal domestik cukup besar, sehingga imbal hasil SBN mengalami penurunan," kata Wimboh.

Dia juga menjelaskan, pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) dalam tren yang meningkat dan tumbuh 20% pada 2017, serta ditutup pada level tertinggi sepanjang sejarah yakni 6.355,65. Menurut Wimboh pertumbuhan ini lebih tinggi dari pertumbuhan indeks saham Singapura, Thailand dan Malaysia.

Wimboh mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi domestik ini juga sejalan dengan pemulihan kondisi ekonomi global, baik di negara maju maupun di negara berkembang, sehingga membuka peluang untuk perbaikan kinerja neraca pembayaran Indonesia di masa mendatang. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed