Defisit Neraca Berjalan AS Kembali Catat Rekor Tertinggi

Defisit Neraca Berjalan AS Kembali Catat Rekor Tertinggi

- detikFinance
Sabtu, 18 Jun 2005 14:48 WIB
Jakarta - Angka defisit neraca berjalan AS terus membengkak dan menciptakan rekor tertingginya. Pada kuartal-I 2005, angka defisit neraca berjalan AS mencatat rekor US$ 195,1 miliar.Angka itu berarti melebihi perkiraan para analis di Wall Street sebesar US$ 190 miliar dan merepresentasikan 6,4 persen PDB AS. Angka itu juga melebihi defisit pada kuartal-IV 2004 sebesar US$ 188,4 miliar, yang merupakan angka revisi dari perkiraan sebelumnya US$ 187,9 miliar. Membengkaknya angka defisit neraca berjalan itu menimbulkan kecemasan para ekonom bahwa AS akan membelanjakan uang lebih banyak dari yang dihasilkan. Hal itu bisa berdampak melemahkan dolar AS.Selain defisit neraca berjalan, defisit anggaran AS saat ini juga mencapai US$ 413 miliar. Defisit kembar itu akan memaksa asing memasok dana lebih banyak ke AS hingga level yang tidak pernah dicapai sebelumnya. Beberapa ahli ekonomi mengkhawatirkan ketidakseimbangan ini karena pada suatu saat, asing akan mengurangi pasokan dolar, yang bisa memaksa AS menerapkan suku bunga yang lebih tinggi dan selanjutnya menimbulkan kekisruhan pada sistem keuangan dunia. Para ekonom juga belum melihat tanda-tanda tren defisit ini akan berbalik karena meski perekonomian AS berkembang, namun Eropa dan Jepang tertinggal di belakang. Wall Street tampaknya tidak memberi respons yang berlebihan atas data yang dikeluarkan Departemen Perdagangan AS, Jumat (17/6/2005) waktu setempat itu. Wall Street ditutup malah menguat, dengan mengesampingkan tingginya harga minyak dunia yang kembali mencapai level US$ 58 per barel dan angka defisit neraca berjalan itu. Dow Jones Industrial Average naik 44,42 poin (0,42 persen) ke level 10.623,07, yang merupakan rangkaian kenaikan ketujuh. Sementara Nasdaq naik 0,96 poin (0,05 persen) ke level 2.090,11. Indeks Standard and Poor's 500 juga naik 6 point (0,50 persen) ke level 1.216,96.Wall Street dibuka tetap pada teritori positif meski angka defisit neraca berjalan itu sudah dikeluarkan. Sentimen negatif justru muncul dari harga minyak yang kembali melonjak, dan sempat mencatat rekor tertinggi pada US$ 58,47 dolar, dengan kenaikan US$ 1.89 per barel."Ini merupakan kombinasi antara berita baik yang lebih banyak daripada berita buruk," kata kepala strategis pasar Jefferies and Co, Art Hogan seperti dilansir AFP, Sabtu (18/6/2005).Berita buruk adalah kenaikan harga minyak, sementara berita baik datang dari data Indeks Kepercayaan Konsumen dari Universitas Michigan. Data itu menunjukkan kenaikan lebih besar dari yang diperkirakan para analis. (qom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads