Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 23 Feb 2018 10:48 WIB

Bank Muamalat dan Rencana Cari Tambahan Modal

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Halaman 1 dari 5
Foto: Agung Pambudhy Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Tahun lalu PT Bank Muamalat Indonesia Tbk mengeluarkan pernyataan akan menerbitkan saham baru untuk tambahan modal perseroan. Namun rencana aksi korporasi tersebut gagal karena calon investor disebut kehabisan waktu untuk mengakuisisi saham bank syariah pertama di Indonesia ini.

Sebenarnya apa penyebab Bank Muamalat membutuhkan modal tambahan?

Rasio kecukupan modal Bank Muamalat per September 2017 tercatat 11,58% turun dibanding periode yang sama tahun 2016 12,75%. Padahal berdasarkan statistik perbankan syariah (SPS) per September 2017 rata-rata rasio kecukupan modal bank syariah nasional 16,16%.

Berdasarkan laporan keuangan, non performing financing (NPF) atau rasio pembiayaan bermasalah Bank Muamalat 2015 secara kotor sempat melewati batas aman dari regulator yakni, 7,46% atau sebesar 1,36 triliun, kemudian pada 2016 mulai membaik di posisi 3,97% atau Rp 696,2 miliar. Periode September 2017 NPF tercatat 4,54%.

Jadi untuk menopang ekspansi bisnis, Bank Muamalat memang membutuhkan dana segar.

"Kalau bisnis kurang modal, normalnya kan disuntik oleh pemilik. Nah ini pemiliknya tidak mau tambah. Karena sudah beberapa tahun tidak diberikan dividen," ujar Sumber detikFinance, saat dihubungi, seperti ditulis Jumat (23/2/2018).

Memang, berdasarkan laporan keuangan tahunan 2016 kebijakan dividen perseroan adalah maksimum sebesar 20% dari laba bersih per tahun, yang jumlahnya ditentukan pada rapat umum pemegang saham (RUPS). Bank tidak membagikan dividen selama 5 tahun terakhir.

Laporan keuangan juga menyebutkan, bank berencana untuk memberikan dividen apabila terdapat surplus kas dari kegiatan operasional setelah dana tersebut disisihkan untuk dana cadangan, kegiatan pendanaan, rencana pengeluaran modal serta modal kerja perseroan.

Kemudian, apabila diperlukan, dari waktu ke waktu perseroan dapat tidak membagikan dividen kepada pemegang saham, seperti dalam hal perusahaan membutuhkan dana untuk pengembangan usaha atau pemenuhan modal atau akuisisi baru.

Komposisi pemegang saham Bank Muamalat Indonesia adalah 32,74% dimiliki Islamic Development Bank (IDB) yang menjadi pemegang saham mayoritas Bank Muamalat sejak tahun 1999, 22% Boubyan Bank, 17,91% Atwill Holdings Limited, 8,45% National Bank of Kuwait, 3,48% dimiliki oleh IDF Investment Foundation, 2,84% oleh BMF Holdings Limited, 1,67% milik Reza Rhenaldi Syaiful, 1,67% Dewi Monita, 1,66% Andre Mirza Hartawan, 1,39% Koperasi Perkayuan Apkindo-MPI (KOPKAPINDO) dan 6,19% pemegang saham lainnya.

Berikut fakta selengkapnya mengenai rencana tambahan modal Bank Muamalat yang dirangkum detikFinance. (ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed