Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 04 Mar 2018 08:59 WIB

BI: Pelemahan Rupiah Bisa Picu Inflasi

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Foto: Agung Pambudhy Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bisa memicu inflasi. Nilai tukar rupiah sendiri menembus Rp 13.800 di pekan ini.

Asisten Gubernur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo menerangkan, pelemahan rupiah akan berdampak pada kinerja industri atau produsen yang melakukan impor. Pasalnya, industri tersebut membutuhkan dolar.

Lanjut Dody, dampak pelemahan rupiah akan menurunkan kemampuan impor. "Dampaknya pada output nasional turun, karena kemampuan impornya berkurang," kata dia dalam acara Indef School of Political Economy seperti ditulis di Jakarta, Minggu (4/3/2018).

Dody mengatakan, bisa saja industri tetap mempertahankan kinerja. Risikonya, biaya produksi akan menjadi tinggi dan berdampak pada harga jual barang.

"Artinya, kalau ini terjadi cost produksi segala macam naik nantinya ujungnya ke inflasi naik," ungkapnya.

Namun, bisa saja produsen mempertahankan harga jual. Akan tetapi, Dody menuturkan itu berarti produsen mesti rela keuntungannya tergerus.

"Pilihan dua, saya langsung transfer harga jual berarti inflasi naik. Kedua saya kurangi profit saya, supaya tetap menjual volume yang terjaga. Dan biasanya itu dilakukan yang kedua," ujar dia.

Dody menambahkan, pelemahan rupiah ini biasanya butuh waktu atau tak langsung berdampak pada harga barang. "Tergantung, kita pernah alami 2 tahun lalu, panjang, jadi tidak segera menyesuaikan dampak nilai tukar," tutup dia. (zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed