Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 14 Mar 2018 10:00 WIB

Kenapa Pencurian Uang di Rekening Kerap Menyasar Bank Besar?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Tim Infografis, Mindra Purnomo Foto: Tim Infografis, Mindra Purnomo
Jakarta - Pencurian uang di rekening nasabah bank masih kerap terjadi di Indonesia. Awal tahun ini ada beberapa kejadian dugaan pencurian uang diduga menggunakan metode skimming di PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).

Beberapa tahun sebelumnya, sejumlah bank besar juga terkena kasus serupa seperti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Kenapa pelaku pencurian mengincar bank besar?


Analyst Digital Forensic Ruby Alamsyah menjelaskan untuk sindikat pencuri uang di rekening menargetkan bank besar karena memiliki jaringan ATM yang luas dan besar di Indonesia.

"Tadinya sekitar 2009-2010 itu Mandiri dan BCA jaringan mereka luas dan besar di Indonesia. Nah sekarang dari segi aset saja Mandiri sudah disalip BRI. Jadi targetnya memang seperti itu yang paling besar," kata Ruby saat dihubungi detikFinance, Rabu (14/3/2018).

Dia menjelaskan, pelaku pencurian itu akan menghitung peluang dari jumlah nasabah atau jumlah rekening bank. Karena BRI yang saat ini memiliki jumlah nasabah terbanyak, jadi terkesan BRI selalu terkena kasus ini.

"BRI kan besar, jadi kesannya BRI lagi BRI lagi yang kena. Padahal sebenarnya setiap bank pasti ada kasus ini. Tidak hanya spesifik satu bank saja," imbuh dia.


Ruby menjelaskan, saat ini bank harus sigap dalam menangani kasus dugaan skimming ini.

"BRI harus sigap seperti BCA dan Mandiri yang sudah biasa dengan kasus seperti ini dan memitigasi penanganan masalah ini," ujar dia.

Dia menjelaskan, nasabah sebenarnya tidak perlu khawatir karena bank pasti akan terus melakukan peningkatan kualitas keamanan dan bertanggungjawab terhadap nasabah.

Skimming memang bukan hal baru di Indonesia. Ini adalah tindakan pencurian informasi kartu debit atau kredit dengan cara menyalin informasi yang terdapat pada strip magnetik kartu debit atau kredit secara ilegal untuk memiliki kendali atas rekening korban.

Jadi data di kartu debit nasabah bisa digandakan dengan teknik skimming. Kemudian data hasil penggandaan tersebut digunakan untuk menguras rekening nasabah.

Teknik skimming dilakukan dengan cara menggunakan alat yang ditempelkan pada slot mesin ATM (tempat memasukkan kartu ATM) dengan alat yang dikenal dengan nama skimmer. (ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed