Dia menjelaskan, untuk meningkatkan ekonomi syariah maka yang harus harus didorong oleh pengembangan ekonomi umat muslim.
"Jadi kami memiliki cara untuk membidik pesantren sebagai sumber pertumbuhan ekonomi, nah jika sudah tumbuh maka yang mereka hasilkan bisa masuk ke sistem perbankan syariah," kata Wiwiek di Komisi XI DPR RI, Jakarta, Selasa (27/3/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menjelaskan, karena santri biasanya akan menjalankan bisnis yang bersifat syariah. Ini juga berlaku untuk perbankan. Menurut Wiwiek saat ini kalangan pesantren masih menganggap jika bertransaksi di bank masih mengandung unsur riba.
Menurut dia ini jadi salah satu agenda yang harus disosialisasikan dan dikomunikasikan kepada santri, mereka bisa bertransaksi di perbankan dan tidak riba. Memang harus diajak ulama-ulama yang bisa memberikan pemahaman terkait hal ini.
"Ulama nantinya akan memberikan penjelasan kepada mereka bahwa sebenarnya, transaksi keuangan di bank itu bukanlah hal yang riba. Itu perlu dilakukan," ujar dia.
Wiwiek menjelaskan untuk mendorong transaksi keuangan ini BI telah melakukan ke beberapa tempat seperti di Sulawesi Selatan dan Jawa Barat menggunakan konsep layanan keuangan digital (LKD) ini dilakukan agar masyarakat pesantren bisa menjadi kelompok yang bisa menjangkau bank.
Dia menjelaskan, perbankan syariah di Indonesia masih tertinggal dari konvensional karena bank masih sulit mendapatkan dana pihak ketiga (DPK) yang murah. Banyak dari bank syariah yang mendapatkan dana mahal seperti deposito.
"Banyak yang bilang dana kami kan second layer pak, jadi pas kasih pembiayaan ke masyarakat sulit kasih imbal hasil yang kecil. Ini yang dikeluhkan perbankan syariah," jelas dia.
Menurut Wiwiek, untuk itu dibutuhkan peran pemerintah agar bisa mendorong pertumbuhan perbankan syariah misalnya penggunaan dana haji dan kebijakan yang bisa menumbuhkan bank syariah.
Untuk menjadi Deputi Gubernur BI, Wiwiek memiliki program untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat agar lebih merata. Hal ini untuk menumbuhkan sumber ekonomi baru dengan melakukan pengembangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang terintegrasi dengan klaster skala besar.
Kemudian yang menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru adalah komoditas pertanian yang bernilai tambah tinggi dan memiliki potensi ekspor yang besar seperti vanili dan sebagainya (ara/ara)











































