Fed Kembali Naikkan Suku Bunga, Wall Street Rontok
Jumat, 01 Jul 2005 10:03 WIB
Jakarta - Bank Sentral AS, Federal Reserve, kembali menaikkan tingkat suku bunga AS sebesar 25 basis poin menjadi 3,25 persen. Namun keputusan Fed itu tidak mengejutkan pasar karena sudah diduga sebelumnya. Wall Street bahkan langsung rontok setelah pengumuman itu.Kenaikan ini merupakan rangkaian kenaikan sebesar 25 basis poin untuk kesembilan kalinya. Fed terus menaikkan suku bunganya secara bertahap semenjak tingkat suku bunganya mencapai level terendah dalam 45 tahun terakhir sebesar 1 persen.Keputusan ini diambil dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang berlangsung Kamis, 30 Juni 2005 waktu setempat, seperti dilansir AFP, Jumat (1/7/2005).Federal Reserve menilai, perekonomian AS masih cukup kuat untuk menahan hantaman tingginya harga minyak setelah adanya kenaikan suku bunga ini. Dalam pertemuan ini, FOMC tetap memberi pesan terkait kebijakan moneter yang akan diambil pertemuan selanjutnya. Fed menegaskan akan tetap mempertahankan kebijakan moneter yang "akomodatif" dalam rangka menyokong aktivitas ekonomi. "Meski harga minyak telah meningkat akhir-akhir ini, ekspansi masih tetap kuat dan kondisi pasar perburuhan tetap meningkat secara bertahap," demikian pernyataan Fed."Tekanan terhadap inflasi masih meningkat, namun ekspektasi inflasi jangka panjang masih tetap terkendali," ujar Fed. Wall Street AnjlokSaham-saham di bursa Wall Street malah langsung anjlok setelah keputusan Fed tersebut. Dow Jones Industrial Average anjlok 99,51 poin (0,96 persen) ke level 10.274,97. Nasdaq juga anjlok 11,93 poin (0,58 persen) ke level 2.056,96. Indeks Standard and Poor's 500 turun 8,2 poin (0,71 persen) ke level 1.191,33.Pasar saham Wall Street saat pembukaan perdagangan pada Kamis, 30 Juni 2005, berjalan flat. Namun setelah pengumuman, saham-saham langsung anjlok. Michael Metz selaku chief investment strategist Oppenheimer and Co. mengatakan, pernyataan FOMC tersebut mengindikasikan bahwa Fed belum tuntas menaikkan suku bunganya. "Ini sulit untuk dipercaya bahwa mereka (Fed) akan berhenti sebelum mereka memperoleh 3,75 persen, atau bahkan 4 persen. Kami harus mengambil pernyataan soal inflasi dengan sangat serius," kata Anthony Karydakis, chief US economist JP Morgan Asset Management.
(qom/)











































