Demand Pertamina dan Korporasi Bakal Terus Hantam Rupiah

Demand Pertamina dan Korporasi Bakal Terus Hantam Rupiah

- detikFinance
Sabtu, 02 Jul 2005 15:10 WIB
Jakarta - Nilai tukar rupiah diprediksi masih terus merosot. Hantaman paling keras terutama dari demand atau permintaan dari Pertamina dan korporasi yang terus meningkat pada beberapa waktu ke depan.Kebutuhan valas dari Pertamina diperkirakan terus meningkat seiring melonjaknya harga minyak dunia. Menneg BUMN Sugiharto sebelumnya menyatakan, kebutuhan valas Pertamina sekitar US$ 50 juta per hari. Jumlah itu dinilai cukup siginifikan mempengaruhi pasar valas, mengingat transaksi valas secara keseluruhan tiap hari hanya sekitar US$ 200-400 juta. Ekonom dari BNI, Ryan Kiryanto, kepada detikcom, Sabtu (2/7/2005), mengatakan, permintaan yang tinggi dari Pertamina dan korporasi itu kemungkinan tidak akan bisa tercukupi oleh suplai. "Dengan kenaikan harga minyak yang sempat mencapai US$ 60 per barel, makin memperbesar kebutuhan valas dari Pertamina. Selain itu, pada akhir bulan ini, kebutuhan valas dari korporat juga besar karena ada utang yang jatuh tempo," jelas Ryan. Dengan berbagai fakta tersebut, Ryan memperkirakan nilai tukar rupiah pada pekan depan masih akan melemah karena tidak ada sentimen positif apa pun yang masuk ke pasar. "Pekan depan, saya perkirakan rupiah akan kembali melemah karena pernyataan pejabat hanya lips service, yang mengatakan fundamental ekonomi kita bagus," kata ekonom BNI Ryan Kiryanto.Selain itu, kinerja rupiah yang terus melemah juga disebabkan oleh faktor eksternal, yakni adanya kenaikan suku bunga Fed sebesar 25 basis poin menjadi 3,25 persen yang sukses mengangkat posisi dolar AS. Tercatat pada Jumat, 1 Juli 2005, euro kembali anjlok hingga level terendahnya dalam satu tahun terakhir. Euro berada di level 1,1956 per dolar, dibandingkan posisi sebelumnya di level 1,2102 per dolar. Level terendah euro sebelumnya adalah pada 24 Mei 2004, yakni 1,1940 per dolar.Dolar juga mencatat posisi tertingginya dalam 10 bulan terakhir atas yen Jepang. Pada Jumat, 1 Juli 2005, dolar AS sempat bertengger di level 111,78 yen, dibandingkan level sebelumnya 110,81 yen.Sementara nilai tukar rupiah juga terus terpuruk. Jika dibandingkan dengan perdagangan awal tahun pada level Rp 9.300-an per dolar AS, maka rupiah pada semester I ini telah mengalami penurunan hingga 4,8 persen di level Rp 9.750-an per dolar AS.Dalam APBN Perubahan 2005, nilai tukar rupiah dipatok pada level Rp 9.300 per dolar AS, yang merupakan revisi dari APBN 2005 sebesar Rp 8.900 per dolar AS.Ryan memrediksi, rupiah pada pekan depan masih akan tetap melemah, dengan kisaran pergerakan di level Rp 9.650-9.800 per dolar AS. Ryan menegaskan, satu-satunya langkah yang bisa menyelamatkan rupiah hanyalah intervensi dari Bank Indonesia. (qom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads