Rupiah Tembus Level Rp 9.800 per dolar AS
Senin, 04 Jul 2005 09:16 WIB
Jakarta - Nilai tukar rupiah terus terpukul. Pada perdagangan Senin (4/7/2005), rupiah dibuka langsung anjlok menembus level Rp 9.800 per dolar AS, tepatnya di level Rp 9.805 per dolar AS. Rupiah benar-benar terpukul oleh desakan permintaan yang tinggi dari Pertamina dan juga korporasi. Menurut pengamat valas, Farial Anwar, pelemahan rupiah merupakan dampak gabungan antara faktor eksternal dan internal. Dari sisi eksternal, kenaikan suku bunga Fed yang sudah berlangsung sejak pertengahan tahun 2004 hingga tahun 2005 memberi pengaruh yang buruk terhadap rupiah. "Tapi dampaknya tidak hanya pada rupiah, tapi juga terhadap seluruh mata uang global," kata Farial dalam sebuah diskusi di Financial Club, Graha Niaga, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta. Dengan kenaikan suku bunga Fed ini, kata Farial, para investor lebih memilih untuk memegang dolar. Hal itu disebabkan karena dengan suku bunga Fed yang tinggi, akan memberi return yang lebih besar untuk simpanan dalam dolar AS. Dan juga dengan kenaikan suku bunga Fed, maka investor akan memperoleh exchange rate gain. Masalah tingginya harga minyak dunia juga menjadi momok bagi pelaku pasar. Dengan tingginya harga minyak tersebut, kata Farial, akan membuat kebutuhan dolar Pertamina kian melonjak. Kebutuhan dolar dari korporasi, kata Farial, juga tak kalah dengan Pertamina. Farial menuturkan, berdasarkan kabar yang didengarnya, kebutuhan dolar korporasi untuk memenuhi kewajiban pembayaran utangnya yang jatuh tempo pada triwulan III dan IV mencapai US$ 7,3 miliar. "Dan itu semua numpuk di akhir Juni," ujarnya. Farial menambahkan, demand atau permintaan yang tinggi tersebut tidak diimbangi dengan suplai yang baik dari Bank Indonesia (BI). Berdasarkan pengamatan Farial, banyak devisa yang dihasilkan Indonesia, namun tidak sepenuhnya masuk. Farial menengarai, devisa itu banyak yang diparkir di luar negeri.Selain itu, investor asing yang masuk dengan membawa dana yang besar tidak masuk ke sektor riil, namun di sektor portofolio seperti saham. Hal itu terlihat dari IHSG yang terus menciptakan rekor tertingginya."Jadi semua itu disebabkan karena ketidakseimbangan struktural antara suplai dan demand," tegas Farial.
(qom/)











































