Follow detikFinance
Senin, 09 Apr 2018 16:08 WIB

Agus Marto Sebut Pengelolaan Arsip di Daerah Buruk

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Ardan Adhi Chandra Foto: Ardan Adhi Chandra
Jakarta - Pengelolaan arsip pemerintah daerah (Pemda) dinilai kurang baik dan kurang rapi. Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menjelaskan hal tersebut terjadi di Pemda yang baru sehingga pemeliharaan sistem arsipnya buruk sekali.

"Arsip di Pemda buruk sekali, ini baru di satu putaran di level Pemda. Memang ada yang tertib tapi banyak juga yang pemeliharaan sistem arsipnya buruk sekali," kata Agus di Gedung BI, Jakarta, Senin (9/4/2018).

Dia menjelaskan, pengelolaan arsip harus lebih baik untuk mendorong terciptanya pertumbuhan ekonomi yang baik.

"Di negara maju pengelolaan arsipnya baik, misalnya kapal dagang komersial, perjalanan semuanya dicatat dan diserahkan ke lembaga arsip," ujarnya,

Ia menjelaskan dokumen atau arsip bisa dijadikan sumber informasi dan referensi, bahkan bisa menjadi dokumen baru yang merupakan landasan otentik bagi akuntabilitas pelaksanaan tugas BI.

"Pelestarian arsip perlu dilakukan dengan konsisten dan baik agar jejak institusi dalam membangun kinerja dapat diabadikan, diwariskan, serta dijadikan landasan berpijak dan kuat untuk mewujudkan visi," kata Agus.


Agus menjelaskan penataan arsip yang baik untuk menjaga kelangsungan informasi penting dan mendukung perumusan serta kebijakan BI. Dia menjelaskan, arsip yang baik turut menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang solid dan stabilitas sistem keuangan yang terjaga.

"Tidak sedikit dokumen yang terkait dengan penetapan kebijakan. Dokumen sebagai sumber informasi dan referensi sebagai landasan otentik dari pelaksanaan tugas BI yang perlu dilestarikan," ujarnya.

Dia menjelaskan, BI telah melaksanakan kearsipan yang baik sejak BI didirikan pada 1 Juli 1953 lalu.

"1928 waktu masih De Javasche Bank, BI memiliki arsip 800 meter linier. Ini upaya untuk mengelola kearsipan lebih baik dan menjadi tugas pokok BI," imbuh dia.

BI Raih Penghargaan Kearsipan

BI juga menerima penghargaan bidang kearsipan dari lembaga Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dan sertifikat Statement of Compliance ISO 15489:2016 Records Management dari Technischer Überwachungs Verein (TÜV SÜD) Singapore, untuk sembilan satuan kerja di Bank Indonesia.

Agus menjelaskan dokumen atau arsip bisa dijadikan sumber informasi dan referensi maupun dokumen baru yang diciptakan merupakan landasan otentik bagi akuntabilitas pelaksanaan tugas BI.

"Pelestarian arsip perlu dilakukan dengan konsisten dan baik agar jejak institusi dalam membangun kinerja dapat diabadikan, diwariskan, serta dijadikan landasan berpijak dan kuat untuk mewujudkan visi," kata Agus.

BI mendapatkan penghargaan dari ANRI terkait upaya penyelamatan arsip statis bidang perbankan, khususnya pada masa transisi peralihan fungsi pengawasan mikroprudensial bank dari BI ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK).


Sedangkan, Statement of Compliance ISO 15489 Records Management, diberikan kepada BI karena berhasil memenuhi standar internasional di bidang kearsipan. Dengan raihan Statement of Compliance ISO 15489 Records Management di tahun ini, 19 (Sembilan belas) satuan kerja BI telah memenuhi standar internasional di bidang kearsipan.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) Asman Abnur menjelaskan BI memiliki sistem arsip yang luar biasa untuk pengelolaan.

"Setiap organisasi dan pemerintahan jika pengelolaan arsipnya buruk maka birokrasinya buruk. Birokrasi buruk maka tata kelolanya buruk dan akan berkesinambungan terhadap bangsa," ujar Asman. (ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed