Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 09 Apr 2018 17:04 WIB

Banyak Orang Cairkan Deposito, Ini Respons Bank

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Jumlah simpanan berjangka atau deposito di bank mengalami perlambatan pertumbuhan pada Februari 2018 menjadi 5,9% dari bulan sebelumnya mencapai 8%.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Keuangan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Anggoro Eko Cahyo menjelaskan saat ini bank memang sedang melakukan perubahan struktur dari dana mahal ke dana murah.

"Kebanyakan bank sedang restruktur dana murah, kan awal tahun seperti ini ekspansi kredit belum terlalu tinggi. Itu artinya dia tidak butuh dana terlalu besar. Jadi kalau ada deposito yang jatuh tempo ya dilepas," kata Anggoro di Gedung BI, Jakarta Pusat, Senin (9/4/2018).


Anggoro mengungkapkan perlambatan pertumbuhan deposito ini terjadi karena faktor musiman. Tren pertumbuhan akan terjadi setelah bank membutuhkan dana untuk mendorong ekspansi kreditnya.

"Musiman aja sih, kalau bank mau ekspansi tinggi lagi mereka juga akan usaha cari dana lagi ya salah satunya dana mahal yaitu deposito," imbuh dia.

Dari data Uang Beredar BI periode Februari 2018 perlambatan terjadi sejalan dengan penurunan suku bunga simpanan berjangka untuk seluruh tenor pada Februari 2018.

Dari data Uang Beredar perlambatan terjadi karena menurunnya deposito perorangan menjadi 6% atau Rp 1.204,4 triliun dari Januari 2018 sebesar 7,1% sebesar Rp 1.206,7 triliun di Jakarta dan Jawa Timur.

Kemudian penurunan deposito korporasi non finansial di Jakarta dan Sumatera Utara menjadi 6,2% atau Rp 611,8 triliun dari sebelumnya 8,6% Rp 620,7 triliun.

Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) pada Februari 2017 tercatat Rp 5.106,2 triliun atau tumbuh 8,2% year on year (yoy) lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 8,5% yoy.


Kepala Riset Samuel Aset Management (SAM) Lana Soelistianingsih menjelaskan, tren penurunan suku bunga kredit dan bunga simpanan sudah sejalan.

"Bunga dana memang lebih cepat turun dibanding bunga kredit, tapi kalau naik bunga kredit memang cepat. Bagi bank uang bentuk simpanan itu cost, jadi kalaupun naik ya pelan-pelan," kata Lana.

Sebelumnya BI mengungkapkan penurunan dana pihak ketika (DPK) terkait dengan likuiditas di pasar/perbankan yang relatif turun di bulan Maret terkait NETO ekspansi fiskal pemerintah yang berkurang dan juga kontraksi likuiditas rupiah karena BI melakukan intervensi valas untuk menstabilkan nilai tukar.

Secara agregat, posisi likuiditas rupiah masih cukup tinggi. Diperkirakan DPK 2018 akan tetap meningkat sesuai perkiraan bahwa likuiditas rupiah masih bertambah dengan proyeksi pertumbuhan oleh BI 9%-11%. (ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed