Follow detikFinance
Jumat, 13 Apr 2018 16:39 WIB

Transaksi Kartu Kredit Melambat, Ekonom: Karena Bisa Diintip Pajak

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Foto: Ari Saputra Foto: Ari Saputra
Jakarta - Transaksi kartu kredit tercatat mengalami penurunan baik dari sisi nominal dan volume transaksi. Dari data alat pembayaran menggunakan kartu (APMK) BI volume transaksi kartu kredit pada Februari 2018 tercatat 25,11 juta kali lebih rendah dibanding volume transaksi Januari 2018 28,97 juta kali.

Sejak awal tahun hingga Februari 2018 54,08 juta transaksi. Mengapa penurunan bisa terjadi? Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudistira Adhinegara menjelaskan, ada beberapa faktor yang membuat transaksi kartu kredit menurun.

Cuma, menurut Bhima, alasan utamanya adalah kebijakan pemerintah mengintip transaksi kartu kredit nasabah.


"Kelas menengah ke atas pengguna kartu kredit juga concern terhadap keterbukaan informasi perpajakan karena kartu kredit salah satu instrumen yang akan diintip, itu menimbulkan ketidaknyamanan, meskipun total transaksi (yang bisa dilihat) di atas Rp 1 miliar dalam setahun. Tapi itu tetap menimbulkan ketidaknyamanan karena ini terkait privasi," kata Bhima kepada detikFinance, di Jakarta, Jumat (13/4/2018)

Sebagai informasi kebijakan mengintip kartu kredit tertuang dalam peraturan Menteri Keuangan (PMK) nomor 228/PMK.03/2017 tentang Rincian dan Informasi serta Tata Cara Penyampaian Data dan Informasi yang Berkaitan dengan Perpajakan.


Dalam kebijakan tersebut dijelaskan tidak semua pengguna kartu kredit akan diintip datanya, hanya nasabah yang tagihannya mencapai Rp 1 miliar dalam setahun. Menurut Bhima, karena kebijakan tersebut nasabah beralih menggunakan transaksi tunai.

"Sebenarnya ada beberapa faktor ini yang mempengaruhi penurunan kartu kredit dan ini sepertinya akan berlanjut sampai ke akhir tahun 2018," ujar Bhima.

"Ini saya coba cek ya per Desember 2017 itu jumlah kartu kredit berkurang 162.000 kartu yang tutup nah itu apalagi yang menjelaskan kalau bukan dampak dari agresifnya pajak ya di luar tadi daya beli masyarakat yang menurun. Konsumsi yang agak berubah salah satu dampak yang paling bikin berubah yaitu dampak dari keterbukaan informasi," tutur Bhima. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed