Follow detikFinance
Senin, 23 Apr 2018 18:49 WIB

Bank Mandiri Dicecar DPR Soal Pinjaman dari China

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Sylke Febrina Laucereno Foto: Sylke Febrina Laucereno
Jakarta - PT Bank Mandiri Tbk hari ini menghadiri rapat dengar pendapat umum (RDPU) di Komisi XI DPR RI. Rapat membahas kasus pembobolan dana nasabah, evaluasi kinerja perseroan 2017 dan pinjaman dari China Development Bank (CDB).

Anggota Komisi XI dari fraksi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Nurhayati menanyakan kepada Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo terkait pinjaman dari CDB. Dia menanyakan apa saja kendala yang dihadapi Bank Mandiri dalam menarik utang tersebut.

"Kami tidak mau dengar yang baik-baik saja, kami mau dengar kendala dan masalahnya. Bapak hanya memuji-muji pinjaman tenornya lama dan tanpa jaminan. Semua orang kan worry jika bank pelat merah ini akan jadi jaminannya kalau tidak bisa bayar," ujar Nurhayati di ruang rapat komisi XI DPR, Jakarta, Senin (23/4/2018).

Nurhayati menambahkan, saat ini Bank Mandiri dinilai sehat walafiat dan tidak membutuhkan dana atau pinjaman dari luar negeri seperti dari CDB.

"Jadi jangan sampai pinjaman ini membebani karena fokusnya akan terpecah bagaimana untuk membayar utang," imbuh dia.



Senada dengan Nurhayati, anggota komisi XI DPR fraksi PDIP Indah Kurnia juga menanyakan bagaimana pinjaman CDB kepada Bank Mandiri tersebut.

"Saya tidak ingin dengar benefitnya yang didapatkan apa saja. Tapi bagaimana nanti pembayarannya dan sudah berapa banyak uang dari China yang dipakai untuk penyaluran kredit Bank Mandiri?," tanya Indah.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo menjelaskan bahwa pinjaman ke CDB US$ 1 miliar dengan komposisi 70% dalam mata uang dollar AS dan 30% dalam Renminbi Yuan.

"Pinjaman ini untuk pendanaan jangka panjang. Karena long term maka bisa mengurangi missmatch pendanaan. Jangka waktu pinjamannya lebih dari 10 tahun bisa untuk membiayai berbagai macam proyek infrastruktur, industri, oil and gas hingga pulp and paper," jelas dia.

Tiko menjelaskan, tidak perlu ada yang dikhawatirkan pasalnya jadwal pembayaran bunga pokok utang sudah diperhitungkan. Pada Mei 2018 sudah dimulai pembayaran dan lunas pada 2025.

"Tidak perlu khawatir karena jumlah pinjaman itu tidak sebanding dengan aset kita (Bank Mandiri), kami bisa bayar bunganya," ujar dia. Secara konsolidasi aset Bank Mandiri periode 2017 tercatat Rp 1.125 triliun.

Sekedar informasi, tiga bank BUMN memang mendapatkan pinjaman dari China Development Bank sebesar US$ 3 miliar. Pinjaman dibagi kepada PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) dan Bank Mandiri.

(eds/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed