Follow detikFinance
Rabu, 25 Apr 2018 12:00 WIB

Canda JK Soal Beda BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan

Rina Atriana - detikFinance
Foto: Rengga Sancaya Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) memberi arahan di Seminar Nasional Ketenagakerjaan yang digelar BPJS Ketenagakerjaan. Dalam arahannya, JK sempat berkelakar mengenai perbedaan antara BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan.

"Dua lembaga ini patut menjadi perhatian dan juga upaya kita untuk meningkatkan, cuma ada bedanya," kata JK di Istana Wapres, Jalan Medan Merdeka Selatan, Rabu (25/4/2018).

"Kalau BPJS Kesehatan selalu yang dibicarakan bagaimana menyelesaikan defisitnya. Sebaliknya BPJS Ketenagakerjaan bagaimana caranya menginvestasikan uang yang banyak ini. Jadi terbalik," tutur JK yang disambut tawa peserta seminar.

Menurut JK persoalan kedua BPJS itu selalu sama. Khusus untuk BPJS Ketenagakerjaan, JK meminta untuk lebih kreatif dalam menginvestasikan dana agar tak kalah dengan asuransi swasta serupa.


"Jadi tentu persoalannya beda. Kalau BPJS Kesehatan bagaimana mencari talangan atau membayar defisit kepada pemerintah, kalau (BPJS Ketenagakerjaan) bagaimana menjaga sustainability kelanjutan program ini, karena pada dasarnya BPJS Ketenagakerjaan merupakan asuransi," ujar JK.

"Di Indonesia ini banyak asuransi. Tapi kita lihat semua, yang pegang kendali sebagian besar ini adalah asuransi asing. Manulife, AXA, macam-macam lah. Kenapa itu terjadi?" imbunya.

JK menjelaskan, sebagai lembaga penjamin tentu mencari peserta tidaklah sulit. Hal yang menjadi tantangan adalah bagaimana nilai uang yang disimpan sekarang bisa menjadi lebih tinggi 10 tahun kemudian.

"Sebagai asuransi atau penjamin, itu mencari peserta tidaklah sulit. Kelemahan kita ialah bagaimana menginvestasi daripada dana yang ditarik sehingga timbul kelanjutan penjaminan masa depan. Orang bayar hari ini Rp 1000, 10 tahun kemudian nilainya lebih tinggi," jelas JK.

JK Sarankan BPJS Ketenagakerjaan Investasi Bangun Rumah Pekerja

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menilai kegiatan investasi yang dilakukan BPJS Ketenagakerjaan belum maksimal. JK pun menyarankan agar BPJS mencoba berinvestasi di bidang properti.

"Sebagai lembaga penjamin, mencari peserta tidaklah sulit, selalu kelemahan kita adalah bagaimana menginvestasikan dana yang diambil itu sehingga berkelanjutan dan menjadi penjaminan masa depan," kata JK.

"Saya lihat dari investasi BPJS ketenagakerjaan itu surat utang, deposito, itu kalah dengan inflasi, nilai tukar. Harus menginvestasikan yang ada hubungan, misalnya membangun rusunawa. Jadi pekerja bisa merasakan manfaat langsung," jelasnya.

Menurut JK, dengan investasi di rumah pekerja, maka pekerja jadi mengetahui dia bayar iuran untuk apa. Ada hasil yang bisa dia lihat.

"Daripada bayar kost-kostan yang jauh. Selain itu pengusaha juga terjamin karena buruhnya tidak terlalu jauh, dan BPJS TK dia punya aset yang nilainya tidak akan berkurang," papar JK.

JK menuturkan, keuntungan deposito berada di kisaran 6 persen. Angka tersebut akan 'tergerus'
oleh inflasi dan nilai tukar.

"Jadi bagaimana kemampuannya menginvestasikan dana yang ditarik," ujar JK.

"Pemahaman bagaimana mengelola dana yang hari ini kumpul untuk dibayarkan berapa tahun kemudian. Kalau salah bisa jadi masalah besar. Sekali lagi itu dialami lembaga yang dulu baik tapi tidak pandai menginvetasikan uang yang besar," imbuhnya. (ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed