Bank Mandiri Batalkan Program Penerbitan Obligasi US$ 1 M
Senin, 11 Jul 2005 17:31 WIB
Jakarta - PT Bank Mandiri Tbk memutuskan menghentikan program penerbitan obligasi US$ 1 miliar yang dirintis oleh mantan Dirut Bank Mandiri ECW Neloe. Sebagai penggantinya, perseroan memilih pinjaman bilateral atau menerbitkan Medium Term Note (MTN).Program penerbitan obligasi Bank Mandiri sebesar US$ 1 miliar telah disetujui oleh Bank Indonesia (BI) pada tahun 2003. Perseroan sebelumnya sudah menerbitkan obligasi valas yang masuk dalam program tersebut sebesar US$ 300 juta."Kita tidak akan melanjutkan lagi (program obligasi US$ 1 miliar), karena itu harus mengaikuti aturan dan MoU dengan penasihat keuangannya lagi UBS AG," kata JB Kendarto, Direktur Treasury Bank Mandiri dalam jumpa pers di kantor pusat Bank Mandiri Jalan Gatot Subroto Jakarta, Senin (11/7/2005).Peraturan yang dimaksud adalah peraturan internasional 144 A yang mengacu pada pasar keuangan di AS. Sedangkan jika Bank Mandiri menerbitkan MTN bisa dengan menggunakan aturan Registeration S yang berlaku di Eropa.Menurut Kendarto, penerbitan MTN sekitar US$ 300 juta merupakan program diluar penerbitan obligasi US$ 1 miliar. "Kalau MTN diluar yang US$ 1 miliar," katanya.Kendarto mengakui, rencana penerbitan MTN sebenarnya belum mendesak dilakukan untuk saat ini. Pasalnya perseroan telah mendapatkan dana segar berupa pinjaman bilateral dari beberapa bank asing.Senada dengan Kendarto, Dirut Bank Mandiri Agus Martowardojo, mengatakan meski penerbitan MTN tetap akan dijalankan karena penasihat hukum dan penasihat keuangan tetap bekerja, namun keputusannya tetap melihat kondisi pasar."Itu akan diterbitkan jika kondisi pasarnya membaik. Kalau penawaran bunganya bagus kita tinggal go saja," kata Agus.Pinjaman Bilateral US$ 400 JutaKendarto juga menjelaskan, meskipun citra Bank Mandiri sempat menurun akibat kasus kredit macet, perseroan masih memperoleh kepercayaan dari beberapa investor asing yang memberikan pinjaman bilateral senilai US$ 400 juta.Adanya dana segar itulah, yang membuat alasan Bank Mandiri tidak terlalu mendesak untuk menerbitkan MTN sekitar US$ 300 juta meskpiun telah disetujui Bank Indonesia."Pinjaman bilateral ini sebagian telah digunakan untuk membayar exchange offer yang jatuh tempo Juni 2005 sebesar US$ 194 juta. Sekarang kita justru kelebihan likuiditas jadi tidak terlalu mendesak menerbitkan MTN," kata Kendarto.Pinjaman bilateral itu di antaranya berasal dari Deutsche Bank, Standard Chartered, ABN AMRO, HSBC dan Wacovia. Pinjaman itu berjangka waktu kurang dari satu tahun dengan bunga LIBOR plus 75 basis poin.Menurut Kendarto, jika perseroan jadi menerbitkan MTN maka bunga yang diharapkan sekitar US Treasury plus 275 basis poin. "Kalau terlalu tinggi berat buat kita," katanya.
(qom/)











































