Follow detikFinance
Kamis, 17 Mei 2018 11:32 WIB

Menanti Langkah BI Ubah Suku Bunga Acuan

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Rengga Sancaya Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Bank Indonesia (BI) akan mengumumkan tingkat suku bunga acuannya hari ini. Suku bunga acuan BI 7 Days Repo Rate saat ini berada di level 4,25%.

Gubernur BI Agus Martowardojo beberapa waktu lalu mengungkapkan bahwa bank sentral berpeluang melakukan penyesuaian terhadap suku bunga acuannya.

"BI Tidak ragu untuk melakukan penyesuaian BI 7-Day Reverse Repo Rate. Tapi dengan kondisi perkembangan nilai tukar yang mempengaruhi kondisi global," ucap Agus akhir April lalu.

Pernyataan tersebut dikeluarkan saat dolar AS 'mengamuk' terhadap rupiah. Saat itu nilai dolar AS berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) tercatat Rp 13.930 hampir mendekati Rp 14.000.

Upaya tersebut akan diambil BI secara berhati-hati dan terukur dengan mengacu pada perkembangan data terkini maupun perkiraan kondisi perekonomian ke depan.


Hari ini dewan Gubernur BI menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang salah satu agendanya adalah membahas suku bunga acuan. BI memang telah menahan suku bunga acuan di level 4,25% sejak delapan bulan lalu yakni September 2017.

Kalangan bankir menilai BI sudah harus menaikkan suku bunga untuk menahan arus modal keluar dari Indonesia. Sejumlah kalangan memprediksi BI akan menaikkan suku bunga acuan di kisaran 25 basis poin (bps) sehingga bunga menjadi 4,5%.

Ekonom INDEF Bhima Yudhistira Adhinegara menjelaskan hingga akhir tahun kemungkinan BI akan dua kali melakukan penyesuaian terhadap bunga acuan. Dia menilai, saat ini BI terlambat untuk menaikkan bunga acuan setelah rupiah dan IHSG melorot.

"Seharusnya sejak Maret lalu BI menaikkan 25 bps sebagai respons naiknya Fed Rate untuk menekan keluarnya dana asing. Sekarang kenaikan bunga acuan efeknya bisa kecil ke penguatan rupiah, karena ekspektasi pasar masih cemas soal rentetan aksi terorisme," kata Bhima saat dihubungi detikFinance, Kamis (17/5/2018).

Menurut Bhima kejadian ini bisa menjadi sentimen negatif untuk pasar. Apalagi pelaku pasar juga masih mencermati data-data fundamental ekonomi yang saat ini belum solid seperti pertumbuhan kuartal I-2018 hanya 5,06%.

Kemudian adanya defisit neraca perdagangan pada April 2018 yang terparah sejak 2014 hingga US$ 1,63 miliar, serta defisit transaksi berjalan yang terus melebar.

"Jika BI menaikkan hanya 25 bps penguatan rupiah hanya bersifat temporer. Jika ingin rupiah menguat signifikan maka kenaikan bunga idealnya 50 bps," ujarnya.

Kenaikan bunga acuan juga tidak bisa langsung ditransmisikan ke bunga kredit. Bank juga akan sangat hati-hati menaikkan bunga kredit karena kondisi likuiditas saat ini masih gemuk dengan capital adequacy ratio (CAR) 22% dan loan to deposit ratio (LDR) 89,6%. Menurut Bhima ini tidak akan langsung memberatkan dunia usaha dan perbankan.

Menurut dia justru dengan bunga acuan yang dinaikkan, investasi asing masih tertarik masuk ke Indonesia.

"Ada supply modal asing yang akan kembali ke Indonesia terutama di pasar sekunder. Perusahaan bisa lebih banyak terbitkan obligasi dan saham untuk cari modal alternatif," ujarnya.

Pelemahan nilai rupiah ini terjadi akibat permintaan valuta asing (valas) dalam dolar AS yang tinggi. Hal ini karena kuartal I-2018 banyaknya keperluan pembayaran utang luar negeri (ULN), pembiayaan, impor dan pembayaran dividen. Selain itu, dolar AS ini juga dampak dari berlanjutnya kenaikan US Treasury atau suku bunga obligasi AS hingga mencapai 3,03%, Ini tertinggi sejak 2013.


Presiden Direktur Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja memprediksi BI akan menaikkan bunga acuan sebesar 50 bps. Kenaikan ini untuk upaya penyelamatan rupiah dan akan mempengaruhi suku bunga deposito dan menyusul penyesuaian bunga kredit.

Direktur Utama Bank Mayapada Hariyono Tjahjarijadi memprediksi BI menaikkan bunga acuan sebesar 25 bps namun tak menutup kemungkinan bisa lebih dari jumlah tersebut.

Kenaikan ini sebagai upaya menahan arus modal asing yang keluar akibat meningkatnya yield surat berharga di AS yang sudah naik di atas 3%. Ini akan mempengaruhi suku bunga dana masing-masing bank termasuk bunga kredit. (ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed