Terganjal NPL
BNI Sulit Jadi Bank Jangkar
Jumat, 15 Jul 2005 13:10 WIB
Jakarta - PT BNI Tbk diperkirakan tidak bisa menjadi bank jangkar pada tahun 2005 ini karena masih tingginya kredit tidak lancar (NPL) yang mencapai sembilan persen. Padahal untuk menjadi bank jangkar disyaratkan NPL di bawah lima persen. "Tahun ini kita sulit untuk masuk kriteria bank jangkar karena NPL saat ini saja sudah sembilan persen," Direktur BNI Sigit Pramono di Kantor Meneg BUMN, Jalan DR Wahidin, Jakarta, Jumat (15/7/2005). Sigit menjelaskan, tingginya NPL dipengaruhi oleh kondisi makro ekonomi serta penerapan PBI tentang kualitas aktiva produktif. Untuk itu, pada tahun ini perseroan akan memprioritaskan penurunan NPL, dengan cara restrukturisasi dan ekspansi kredit. "Sekarang kita targetkan NPL di bawah 10 persen," kata Sigit.Bank BUMN lainnya yang juga kepentok tingginya NPL sehingga tidak bisa menjadi bank jangkar adalah Bank Mandiri. Hingga Maret 2005, tercatat Bank Mandiri memiliki NPL gross sebesar 18 persen dan NPL netto sebesar 10,8 persen. Namun Bank Mandiri tetap optimistis bisa menjadi bank jangkar karena masih ada waktu untuk memperbaiki kondisi hingga tahun 2007. Bank Mandiri saat ini masih didera kredit macet. Khusus kredit tidak lancar sektor korporasi yang mencapai 30 persen dan menjadi penyebab tingginya NPL. Akibatnya, perseroan harus melakukan cadangan (provisi) lebih besar yang berdampak pada turunnya laba bersih per Maret 2005 hingga 70 persen menjadi Rp 519 miliar dibanding periode yang sama tahun sebelumnya Rp 1,4 triliun.
(qom/)











































