Follow detikFinance
Selasa, 05 Jun 2018 12:14 WIB

Beli Reksa Dana Syariah Yusuf Mansur, Berapa Keuntungannya?

Danang Sugianto - detikFinance
Ustaz Yusuf Mansur Foto: Hasan Alhabshy Ustaz Yusuf Mansur Foto: Hasan Alhabshy
Jakarta - PT PayTren Aset Manajemen (PAM) menargetkan dana kelola atau asset under management (AUM) hingga akhir tahun ini mencapai Rp 3 triliun. Dengan target yang lumayan tinggi, lalu seberapa besar kinerja produk reksa dana sayariahnya?

Direktur Utama dan CEO PAM Ayu Widuri menjelaskan, saat ini PAM memiliki dua produk reksa dana syariah, yakni Reksa Dana Safa dan Reksa Dana Falah. Keduanya merupakan jenis reksa dana pasar uang dan saham.

"Kita umurnya baru belum ada satu tahun dan kita luncurkan reksa dana berbasis saham syariah itu pada 2 Februari 2018," tuturnya di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (5/6/2018).


PAM sendiri menargetkan kinerja reksa dana sahamnya bisa memberikan imbal hasil hingga 14%. Sedangkan untuk reksadana pasar uang tumbuh 4% hingga 5%.

Namun saat ini kinerja reksa dana PAM belum mencapai target tersebut. Sebab kondisi pasar tengah terpuruk, terlihat dari anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) beberapa waktu yang lalu.

"Jadi kita masih negatif dalam hal ini tapi rate negatif kita jauh lebih baik dari Jakarta Islamic Indeks (JII), lebih baik dari IHSG dan rata-rata reksadana lainnya,. jadi memang waktu kami masuk pasar itu pasarnya sedang turun," tambahnya.

Meski begitu PAM yakin kondisi pasar akan kembali pulih. Bank Indonesia (BI) telah mengambil sikap dengan menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin (bps) dan mampu membuat pelemahan rupiah tertahan. IHSG pun mulai merangkak naik.


Sementara Komisaris Utama Paytren, Yusuf Mansur menambahkan, bahwa seluruh produk reksa dana PAM pasti berbasis syariah. Saat ini pihaknya mengacu dari indeks saham syariah yang baru dibuat oleh BEI yakni Jakarta Islamic Index (JII) 70 .

"Kami punya 30 konter saham yang berbeda. Kami juga bahagia sudah diluncurkan JII70. Dari sebelumnya 30 saham syariah menjadi 70 saham. Kita mungkin tambah menjadi 50 saham untuk mengecilkan risiko," tuturnya. (ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed