Diseret Mata Uang Regional, Rupiah Kembali Jatuh
Selasa, 19 Jul 2005 16:50 WIB
Jakarta - Pelemahan mata uang regional menyeret rupiah. Pada Selasa (19/7/2005), rupiah ditutup kembali melemah ke level Rp 9.820 per dolar AS. Pada awal perdagangannya, rupiah bertengger di level Rp 9.795 per dolar AS. Sementara pada penutupannya Senin, 18 Juli, rupiah bertengger di level Rp 9.805 per dolar AS.Deputi Gubernur Senior BI Miranda Goeltom mengatakan, pelemahan rupiah saat ini merupakan imbas dari kondisi regional. Rupiah pun melemah bersamaan dengan mata uang lainnya. Namun depresiasi rupiah masih lebih baik dibandingkan mata uang lainnya. Miranda menyebutkan, depresiasi rupiah mencapai 5,34 persen, sementara baht Thailand terdepresiasi 7,4 persen, dolar Singapura terdepresiasi 7,3 persen, yen Jepang dan euro terdepresiasi sekitar 10 persen."Ini menujukkan bahwa pelemahan mata uang dunia disebabkan oleh penguatan dolar AS. Selain itu, semua negara juga menghadapi masalah di dalam negeri akibat kenaikan harga minyak dunia," kata Miranda di Hotel Borobudur, Jl Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (19/7/2005).Meski tidak sendiri, BI tetap mencoba mengawal rupiah agar tidak terlalu terdepresiasi. "Saya tidak membela diri. Tapi kita bisa melihat masalahnya bukan hanya di kita saja. Tapi kita concern tentang apa yang terjadi atas rupiah walaupun tren dunia memang seperti itu," Miranda.
(qom/)











































