Follow detikFinance
Sabtu, 09 Jun 2018 15:46 WIB

Ini Ciri SMS Penipuan yang Marak Setelah THR Cair

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Sylke Febrina Laucereno/detikFinance Foto: Sylke Febrina Laucereno/detikFinance
Jakarta - Setelah tunjangan hari raya (THR) cair, mulai marak pesan singkat atau SMS yang masuk ke handphone mengirimkan informasi sebagai pemenang. Hadiah yang ditawarkan tak tanggung-tanggung, mulai dari uang puluhan juta hingga satu unit mobil mewah.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L Tobing menghimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada. Pasalnya selama Ramadan juga masih ada penipu yang berkeliaran untuk mencari mangsa.


Salah satunya dengan mengirimkan pesan singkat atau SMS penipuan ke nomor handphone. Biasanya SMS itu berisi permintaan transfer hingga pengumuman pemenang.

"Jangan percaya. Itu pasti menipu, karena kalau kita dapat hadiah apalagi besar hadiahnya seperti mobil atau umrah itu tidak mungkin lewat SMS," kata Tongam kepada detikFinance, Sabtu (9/6/2018).

Sama seperti saat waspada dengan investasi, Tongam meminta masyarakat juga aktif memeriksa tautan atau link yang biasanya juga dikirimkan oleh penipu.

"Kalau penasaran boleh diperiksa link-nya, tapi biasanya mereka menggunakan website yang gratisan seperti blogspot dan desainnya buruk sekali. Sebaiknya waspada dan jangan diikuti," ujar Tongam.

Memang, website yang dicantumkan dalam SMS penipuan itu memiliki kualitas desain yang buruk. Dengan nama domain yang terkesan asal-asalan seperti promoramadhan27.blogspot.com, thr-isiulang19.blogspot.com. Website tersebut juga gemar mencantumkan secara asal foto-foto pejabat berwenang seperti Kapolri, Gubernur DKI Jakarta, hingga Direktur Jenderal Pajak Kementerian Keuangan.


Tongam menjelaskan jika ada SMS terkait penipuan investasi bisa menanyakan dulu ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait legalitas atau perizinan kegiatan usaha tersebut. Jika tidak ada informasi yang lengkap sebaiknya jangan diikuti.

"Masyarakat juga perlu sadar, imbal hasil tinggi itu tidak masuk akal. Pada akhirnya akan merugikan. Kalau mau investasi harus di tempat yang legal dan aman saja seperti deposito, saham, reksa dana atau investasi pada bidang lain," ujarnya. (ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed