Rupiah Naik Drastis

Rupiah Naik Drastis

- detikFinance
Jumat, 22 Jul 2005 16:49 WIB
Jakarta - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Jumat (22/7/2005) sore ini ditutup menguat di level Rp 9.686 atau naik sekitar 94 poin dari pembukaan perdagangan pagi tadi. Sebelumnya pada pembukaan perdagangan pagi tadi rupiah dibuka menguat pada level Rp 9.780 per dolar AS, atau berarti menguat 30 poin dibandingkan penutupannya kemarin. Penguatan rupiah salah satunya dipicu oleh keputusan Cina merevaluasi mata uangnya, yuan. Cina akhirnya memutuskan untuk melakukan revaluasi yuan yang sudah berlangsung selama 10 tahun terakhir di level 8,28 per dolar AS. Yuan akhirnya diperkuat 2,1 persen menjadi 8,11 per dolar AS. Keputusan ini langsung diikuti oleh Malaysia yang memutuskan untuk melepaskan pematokan mata uangnya dan mengarah pada sistem mata uang yang mengambang. Sejumlah mata uang Asia langsung melonjak setelah keputusan Cina itu. Selain rupiah, pada perdagangan pagi tadi nilai dolar Singapura juga menguat 2,2 persen ke level tertingginya dalam dua bulan terakhir di 1,6498 per dolar AS. Baht Thailand juga menguat ke level tertingginya dalam tiga bulan terakhir. Demikian pula won Korsel dan dolar Taiwan.Bank Indonesia meyakini, revaluasi mata uang Cina, yuan, akan membantu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia di samping menguatkan nilai tukar rupiah. Diharapkan, pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan sebesar 6,5 persen bisa terlampaui. "Revaluasi yuan akan memberi dampak positif," kata Deputi Gubernur BI Aslim Tadjudin saat dihubungi detikcom, Jumat (22/7/2005).Dengan stabilnya rupiah, lanjut Aslim, diharapkan angka inflasi terutama dari imported inflation dapat dikurangi.Dengan revaluasi yuan, maka ekspor Cina akan menjadi mahal. "Jadi daya saing negara lain yang menjadi kompetitor Cina akan terbantu," kata Aslim. Ekspor Indonesia, diharapkan juga ikut terdorong oleh revaluasi ini. Jika ekspor Indonesia bisa berkembang, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia diharapkan juga ikut bertambah. "Karena kan pendukung pertumbuhan kita sudah berimbang, tidak hanya dari konsumsi tapi juga impor dan investasi," ujarnya. (mar/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads