Follow detikFinance
Selasa, 10 Jul 2018 16:10 WIB

Obligasi Ramah Lingkungan Kurang Diminati di RI, Ini Alasannya

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Belum banyak perusahaan Indonesia yang menerbitkan obligasi ramah lingkung atau green bond. Padahal surat utang jenis itu di luar negeri cukup digemari.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada akhir 2017 juga sudah menerbitkan POJK No.60/POJK.04/2017 Penerbitan dan Persyaratan Efek Bersifat Utang Berwawasan Lingkungan (green bond). Aturan itu guna mewadahi perusahaan yang ingin menerbitkan green bond.

Namun hingga hari ini baru satu yang menerbitkannya, yakni PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). Sementara PT Danareksa Sekuritas sebagai penjamin emisinya.


Direktur Investment Banking Danareksa Sekuritas, Boumediene H Sihombing mengungkapkan, untuk menerbitkan green bond ternyata cukup sulit. Banyak persyaratan yang harus dipenuhi sehingga membuat biayanya mahal.

"Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi yang menyebabkan cost-nya lebih besar," tuturnya di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (10/7/2018).

Salah satu persyaratan untuk menerbitkan green bond harus mendapatkan opini dari konsultan yang khusus tentang green bond. Lalu diharuskan juga menggandeng konsultan asing.

Menurut Boumediene seharusnya otoritas memberikan insentif demi mengurangi biaya penerbiyan. Sebab menurutnya insentif juga sudah dilakukan di negara-negara lain.

Dia mengatakan, hal itu membuat minat perusahaan indonesia surut untuk menerbitkan green bond. Sehingga otoritas juga perlu edukasi dan sosialisasi.

Sekedar informasi PT SMI menerbitkan green bond tahap I 2018 senilai Rp 500 miliar. Penerbitan itu bagian dari Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) Green Bond senilai Rp 3 triliun.

Hasil penerbitan green bond itu untuk membiayai berbagai sektor seperti: energi energi terbarukan, transportasi ramah lingkungan, dan pengelolean air bersih.


Awalnya permintaan investor untuk masuk ke Green Bond PT SMI cukup besar yakni Rp 1 Triliun. Namun karena adanya kenaikan suku bunga The Fed dan Bank Indonesia (BI) sebagian dari investor menarik diri dan menunggu kepastian kenaikan suku bunga.

Namun demikian selama masa penawaran terdapat tambahan permintaan green bond sebesar Rp 145 milar, sehingga total emisi tahap I menjadi Rp 500 miliar.

Green bond tahap I perseroan terdiri atas dua seri. Seri A senilai Rp 251,5 milair dengan tenor selama tiga tahun memiliki kupon sebesar 7,55%. Sementara seri B green bond perseroan senilai Rp 248,5 miliar dengan tenor selama lima tahun memiliki kupon sebesar 7,8%. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed